MATOR 6; 3M Terhadap Najis

IMG_9237UNY - Kamis (5/6) seperti biasa, serangkaian agenda MATOR rutin yang diadakan setiap Kamis minggu pertama dan ketiga setiap bulan pukul 06.00 WIB di masjid Al-Mujahidin lt.1 dalam bagian episodenya yang ke-6 kali ini pun kembali diselenggarakan. Mengangkat tema pembahasan mengenai Thaharah, Suci dan Bersih Diri Dari Najis, oleh Ustadz Talqis Nurdiyanto, Lc. menyampaikan beberapa cara membersihkan najis dari tubuh, benda, dan atau sebuah tempat tertentu, seperti lantai dalam rumah yang mungkin terkena najis, jok motor, tanah lapang, bahkan makanan.

Dari penyampaian yang disampaikan oleh Ustadz Talqis, setidaknya dapat dirangkum tiga cara singkat pertolongan atau tindakan pertama terhadap pensucian najis, sebelum benar-benar memasuki ke hal-hal teknis yang bersifat lebih spesifik berdasarkan kategori dan atau keadaan tempat yang terkenai najis itu sendiri.

Pertolongan pertama itu adalah Mengetahui, Mencari, dan Membersihkan, yang kemudian disingkat 3M. Mengetahui ilmunya, Mencari alat atau perantara penyucinya (yang dapat membuat kembali suci, seperti air, tanah, sabun, dsb.), dan yang terakhir, Membersihkan najis dari tempat kediamannya.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan najis dari pakaian atau badan, tanah, makanan, dan cermin atau benda. Bila najis mengenai pakaian, maka caranya cukup dibersihkan dengan air, sampai najis itu hilang dari tempatnya.

Yang kedua, adalah menyucikan tanah. Jika najis yang mendiami tanah tersebut berupa cairan atau berwujud cair, maka yang perlu kita lakukan adalah menyirami tanah tersebut, tepat di bagian yang terkena najis dengan menggunakan air. Setelah keringnya kembali tanah, adalah tanda suci atau telah bersihnya tanah tersebut dari najis. Namun, jika najis yang mengenai tanah tersebut berwujud padat, maka najis tersebut harus kita ambil terlebih dahulu menggunakan perantara dari tempatnya. Jika meninggalkan bekas, (ada bagian tanah yang menjadi basah setelah najis tersebut diambil) maka disiram dengan air.

Ketiga, menyucikan dan atau menghilangkan najis pada makanan. Ketika makanan kita terkena najis, semisal tanpa sengaja ada semut, nyamuk, dan atau lalat kecil yang mati di atasnya, yang harus dilakukan adalah membuang atau menyingkirkan bagian serta sisi-sisi atau area sekitar makanan yang terkena najis. Setelah itu, makanan tersebut kembali diperbolehkan untuk dimakan.

Terakhir, adalah menyucikan najis dari benda atau sesuatu yang padat. Yang kemudian harus kita lakukan, ketika cermin, sepatu, jok motor, dan atau benda-benda lain suatu ketika tanpa sengaja terkena najis, adalah dengan cara membersihkan najis tersebut bekas yang menempel padanya (sedikit berbeda dengan pakaian) dengan cara mengusap dan atau mengangkat najis dari tempatnya kemudian menyucikannya dengan air. Jika najis mengenai benda lain seperti sepatu, selain dapat dibersihkan dengan cara yang sama menggunakan air, dapat pula di bersihkan dengan cara menggosok-gosokkan bagian sepatu di atas tanah yang suci.

***

Sebagai salah satu peserta, Fatimah mengaku bahwa mator ini merupakan pembekalan untuk berbagi dengan adik-adik tutor. Ternyata masih ada “sesuatu” yang masih belum ‘mendalam’ kita ketahui yang terkadang kita meremehkan hal itu. Untuk itu, mator adalah sarana untuk mencari ilmu tersebut.

Subhanallah, matornya keren banget… Persoalan ibadah, terkadang seringkali menjadi pertanyaan dari adik-adik. Dan dengan pembahasan ini mator ngebantu banget untuk bisa ngasih jawaban yang lebih rinci ke adek-adek dalam tutor, tambah Rizki Ageng Mardikawati.

(Ani).

 

Koordinasi Dosen – Tutor – Pengurus Tutorial PAI UNY

aaaaaaaUNY - Senin (2/6) kembali dilaksanakan kegiatan rutin “Koordinasi Dosen, Tutor, Pengurus Tutorial PAI UNY” bertempat di LPPMP Lt.2 Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan oleh MKU PAI dalam rangka koordinasi dengan para tutor dan pengurus tuturial sebagai langkah untuk me-sinergiskan gerak kerja penanaman Pendidikan Agama Islam, khususnya di UNY.

Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan tilawah oleh Amar Anfau. Kemudian, sambutan oleh ketua panitia, Pak Syukri Fathuddin, M. Pd. “Mari kita menghangatkan situasi ini dalam rangka koordinasi rutin khususnya di mata kuliah pendidikan Agama Islam antara dosen – tutor PAI UNY, ” sapa beliau. Kesempatan kedua sambutan disampaikan oleh ketua LPPMP, Prof. Dr. Wawan Sundawan Suherman sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam penyampaiannya, “Kuliah itu dibagi menjadi tiga, ada kuliah teori, kuliah praktik dan kuliah lapangan. Jika dikaitkan dengan kuliah Pendidikan Agama Islam, apakah PAI hanya kuliah teori? Sekarang orang tidak cukup dengan teori, namun harus ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan tutorial.” “Melalui kegiatan ini mari kita sama-sama menyamakan persepsi bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin,” tambahnya.

Pada acara inti materi disampaikan oleh Dr. Rajasa Mu’tasim, MA. (Eks. Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah UIN Suka Kalijaga) dengan tema “Pendidikan Agama Islam dalam Pengembangan Kurikulum yang Ingklusif dan Berkarakter.”

Beliau menyampaikan bahwa kebudayaan adalah jembatan atau media dalam menyampaikan wahyu Islam. Dalam menyampaikan wahyu itu harus ada aktor. Dan Aktor harus pandai-pandai memahami kondisi, kebiasaan yang ada di masyarakat. Perlu dilihat materi yang akan disampaikan.  Jadi aktor harus mengemas materi yang disampaikan dengan baik, sehingga masyarakat dapat menerimanya dengan baik pula.

Sebelum acara ditutup, acara diisi dengan perkenalan pengurus Tutorial dan penyampaian program kerja Tutorial PAI UNY periode 2014 yang dalam hal ini disampaikan langsung oleh koordinator umum Tim Tutorial, Aziz Prabanistian. Ada beberapa proker yang sudah terlaksana di antaranya ada bintor part#1, mator yang sudah terlaksana 5 kali, kemudian rekrutmen tutor, dan program lainnya. Aziz juga menyampaiakn bahwa “Ada 197 tutor yang sudah terekrut untuk semester genap ini. Dan, akan dilakukan perekrutan kembali pada semester ganjil mendatang.” Acara pun ditutup oleh Eriyus selaku pembawa acara.

(L. A.)

 

 

 

Salam Transformator

eeeAssalamu’alaikum,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. atas nikmat iman, sehat, dan cinta kasih-Nya kepada kita. Apa-apa yang ada di langit dan bumi senantiasa bertasbih, memuji kebesaran-Nya. Sholawat serta salam kepada sang inspirator, Nabi Muhammad Saw., kepada keluarganya, para tabiin, serta orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnah beliau.

Pada edisi kali ini, buletin Transformator hadir dengan tema Pendidikan Nasional dan Mahasiswa untuk Negeri. Ada dua makna yang dapat dikaji dari tema tersebut. Pertama, Pendidikan Nasional, dan kedua Mahasiswa untuk Negeri. Secara tersirat, pendidikan nasional ibaratnya ‘nakhoda’ dalam perjalanan negeri. Juga, menjadi tolak ukur karakter generasi-generasi emas bangsa yang terbentuk. Bagaimana korelasi di antara keduanya? Let’s cek it out.*

Selamat membaca, semoga bermanfaat. No one is perfect, untuk itu masukan kami harapkan demi perbaikan buletin ke depannya.

 

#Headline

Pendidikan Nasional dan Mahasiswa untuk Negeri

Menurut undang-undang nomor 20 tahun 2003 (bab III pasal 3) menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan muatan UU di atas, maka perlu adanya peran dari berbagai elemen dalam mewujdkan fungsi dari pendidikan nasional, sehingga tidak sebatas ‘tulisan’ yang tersusun rapi dalam suatu undang-undang maupun kurikulum, namun lebih jauh dari itu yakni ‘harus’ diimplementasikan. Tentu dalam hal ini adalah peran lembaga pendiidkan sangat diperlukan. Mulai dari pendidikan informal hingga pendidikan yang formal. Mulai dari pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Pendidikan nasional yang di- setting dengan baik, maka akan melahirkan generasi-generasi emas yang baik pula. Di UNY sendiri misalnya yang merupakan Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK), dimana pendidikannya tertuju pada pendidikan karakter. Tentang bagaimana melahirkan mahasiswa berkarakter yang berlandaskan atas tiga pilar utama, yakni takwa, mandiri, dan cendikia.

Ketiga pilar tersebut tercermin pada tiga hal yang semestinya ada pada diri mahasiswa. Apa itu? Cerdas emosionalnya, prestasi oke, dan ketakwaan kepada Allah swt. adalah landasan utamanya.

Ketika pendidikan nasional dimainkan dengan baik atas landasan yang kokoh, maka akan terbentuk insan-insan berkualitas yang akan menjadi actor dalam mengisi pembangunan negeri. Hal inilah yang harus menjadi fokus pembahasan bagaimana mewujudkan pendidikan nasional yang sejatinya dapat memberi warna untuk negeri.

Sebagai output dari sistem pendidikan diharapkan apa-apa yang menjadi cita-cita negeri dapat dimain-perankan oleh elemen-elemen yang bersesuaian (mahasiswa, satu di antaranya. –red).  Mengapa mahasiswa? Karena mahasiswa adalah agen perubahan. Jika mahasiswanya mendapatkan pendidikan yang baik, kemudian berkarakter luhur, maka ini akan menjadi ‘sinyal’ yang baik pula. Artinya, akan ada para generasi yang siap memberi dan mengabdi untuk negeri.

Oleh karena itu, sangat erat sekali korelasi antara pendidikan nasional dengan mahasiswa dalam perannya untuk negeri.

#Profil

Indonesia dan Kontribusi Mahasiswa untuk Negeri

Mifta Damai Riyaningtyas. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Administrasi Negara yang baru saja menyelesaikan kuliahnya dan menjadi lulusan terbaik UNY yang diwisudai Maret 2014 lalu. Putri sulung dan seorang kakak dari 2 adik yang kerap disapa Rizki dan Jabar.

Mifta. Begitu nama sapaannya di kampus. Sebagai seorang mahasiswa FIS, pengetahuan sosialnya tidak bisa dibilang sedikit, terbukti ketika ia ditanya mengenai kondisi Indonesia yang ia ketahui, ia pun menjawabnya dengan detail. “Kondisi Indonesia, yang jelas masih ada ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat di seuruh nusantara. Gampangnya,lihat saja antara Jawa dan pulau-pulau yang lain, termasuk yang di daerah-daerah terluar, terpencil, dan tertinggal. Tidak meratanya dalam berbagai segi, baik fasilitas pendidikan,kesehatan, dan sebagainya. Karena itu, di Indonesia ada yang namanya menteri pembangunan daerah tertinggal supaya ada percepatan pembangunan di daerah-daerah tersebut. Secara politik dan ekonomi, lebih stabil dibanding dengan masa-masa lampau, terutama orde lama dan orde baru. Sekarang sudah ada UU KIP, media bebas, orang bebas berpendapat dan berekspresi. Namun, terkadang masih bingung menyikapi demokrasi, yang dianggap sebagai kebebasan tanpa batas.dalam hal politik, belum semua berpartisipasi aktif. Banyak yang masih gol[ut. Padahal, politik arahnya adalah usaha bersana untuk mencapai kebaikan bersama.”

Ia menuturkan bahwa mahasiswa yang aktif sangat penting dan diperlukan Indonesia. Karena, mahasiswa aktif adalah mahasiswa yang berbuat dan berpikir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. “Jika diibaratkan air, air akan tetap jernih saat ia terus mengalir. Saat ia diam dan menggenang, semakin lama ia akan menjadi keruh. Oleh karena itu, mahasiswa pun harus aktif bergerak, untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Kebaikannya bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga berdampak pada dirinya sendiri.”,

Menurut Mbak Mifta (red), apakah para aktivis kampus sudah menunjukkan sikap dari ‘mahasiswa aktif’ yang sesungguhnya?

Sudah. Mahasiswa sudah berbuat sesuai dengan passion dan kepakaran masing-masing untuk menjadi mahasiswa yang menginspirasi Indonesia. Mungkin bentuknya bisa lebih dikonkritkan. Kalau selama ini mungkin masih tataran diskusi, wacana, dan seminar, bisa lebih dikerucutkan lagi menjadi bentuk tertentu, yang juga sudah dilakukan beberapa mahasiswa secara individu maupun ormawa. Misalnya mengelola komunitas pengemis dan anak jalanan dalam pendidikan, punya desa binaan, dll, yang langsung menyentuh lapisan masyarakat secara kontinyu. Tapi apapun yang dilakukan, meskipun sedikit pastilah membawa dampak yang tidak sia-sia. Setidaknya, mahasiswa tidak apatis pada kondisi bangsanya dan punya cara sendiri untuk mencintai dan berbuat untuk Indonesia.

Apakah kegiatan-kegiatan tersebut sudah dapat dikategorikan partisipasi untuk memperbaiki Indonesia?

Iya. Kalau kata Anis Matta, lebih baik menyalakan cahaya daripada mengutuk kegelapan. Mahasiswa yang aktif, mereka itulah sang penyala cahaya, memberi terang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sekelilingnya.

Menurut Mbak Mifta, kontribusi seperti apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini sebagai mahasiswa?

Kontribusi apapun yang kita bisa tidak harus sama di bidang organisasi atau akademik yang bisa ditempuh mahasiswa. Misalnya punya passion dalam bidang seni, ya kembangkan untuk mengharumkan almamater dan Indonesia. Contohnya, wayang, seni musik, dalan lain-lain. Atau bisa pula di bidang lain yang sesuai dengan kemampuannya.

Dari jawaban yang ia berikan, jelas nampak bahwa prestasi yang diraihnya memang seuai dengan kemampuan yang ia miliki. Saat ditanya mengenai kontribusi yang sudah ia berikan, dengan rendah hati ia menjawab bahwa masih banyak hal yang belum ia lakukan untuk Indonesia, masih banyak PR untuk mencintai Indonesia yang harus ia kerjakan. Ia juga merasa bahwa hanya bisa memberikan bantuannya sedikit di ormawa. Padahal sebagaimana kita mengenalnya, sudah banyak prestasi yang diraihnya baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

Terakhir, untuk semua mahasiswa, Mbak Mifta berpesan, ”Ada banyak  cara untuk mencintai Indonesia. Karena cinta adalah kerja, maka bukan hanya kata, cinta harus kita jawab dengan kerja-kerja nyata. Mengembangkan passion dan menjadi expert di bidang masing-masing adalah salah satu cara untuk mencintai Indonesia. Satukan potensi terserak untuk bersama membangun Indonesia.”

#Info kampus

Beasiswa Unggulan Mandiri

Program ini dibuka hingga tanggal 31 Desember 2014 dan dilakukan secara online.

Informasi lebih lanjut :http//beasiswaunggunlan.kemendiknas.go.id/program/detail/66

 
#Suara Tutorial

Dengan karakter pembelajar dan usia matangnya, pemuda mampu berpikir dan bekerja dengan baik. Modal pemuda yang bergerak dengan inisiasi, bukan instruksi. Ketika ia memperjuangkan kebenaran secara tersistem, Indonsia Madani insya Allah akan terwujud. Noor Aziz Prabanistian, Ketua Tutorial PAI UNY 2014

Sejak dulu hingga sekarang mahasiswa menjadi golongan intelektual yang mempunyai peran sebagai jembatan antara pemerintah dengan rakyat Indonesia. Sejarah telah berbicara bahwa beberapa kali perubahan bangsa diawali dari sikap kritis dan idealisme mahasiswa, walaupun dengan darah dan airmata yang dikorbankan. Tommy Safarsyah , Ketua BEM KM UNY 2014

Peran mahasiswa untuk negeri :
Berpikir dan membagi pemikiran, berkarya dan mengkaryakan orang lain. Mohamad Aziz Ali, Sekjend BEM FMIPA 2013

 

Nb: Dan masih ada rubrik lainnya,  segera dapatkan difakultas masing2.

*Buletin akan didistribusikan ke setiap fakultas atau secara langsung buletin bisa didapatkan di Sekret Tutorial PAI UNY, IEC Lt.2.

Setiap Kita adalah Pemenang

KKKKYogyakarta- Setiap kita adalah pemenang. Setiap kita adalah insan terbaik yang diciptakan-Nya. Maka, sungguh merugi jika amanat itu hanya sekedar menjadi ‘bumbu pemanis’ tanpa aksi yang nyata. Bertindak, bergerak memberikan perubahan adalah pilihan yang tak dapat ditawar.

Tepatnya Sabtu (24/5), telah diselenggarakan lomba debat agama berbasis Bahasa Inggris, dengan tema “I am a Winner.” Acara ini merupakan acara perdana di bawah Pondok Ilmy’ Wa Dzikr sebagai penyelenggara.

Acara yang diikuti oleh para mahasiswa tersebut dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan mata kuliah Pendidikan Agam Islam di Perguruan Tinggi masing-masing. Awalnya, pesertanya ada 25 orang (sebagai perwakilan masing-masing universitas). Kemudian diseleksi dari 10 besar hingga 3 besar. Tiga besar itu adalah UNY, UII, dan UIN.

Maka, pada kesempatan itu salah satu mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta, Titik Fatimah* ikut andil sebagai peserta dalam ajang lomba tersebut.

Adapun judul yang diangkat oleh pemenang pertama ini adalah Allah is My Purpose and Islam a Way. Titik mengungkapkan bahwa selelah apapun kita , Allah adalah tujuan dan semangat kita dan Islam adalah jalan kita.

Makna dari Prestasi itu apa sih menurut Titik?

“Prestasi itu ada dua, pertama prestasi dunia dan kedua adalah prestasi akhirat. Yang paling saya kejar adalah akhirat, maka dunia akan menyertai. Cukup berikan yang terbaik pada Allah dengan segala ikhtiar terbaik, tak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan,” imbuhnya.     *Staff HRD Tutorial PAI UNY

(L. A.)

Mator#5

EDITKamis (22/5) – Pendidikan Nasional tidak lepas dari “Pendidikan Islam.”  Mengapa demikian? Karena buah dari Pendidikan Islam melahirkan manusia berkarakter. Berbicara jauh tentang Pendidikan Islam, maka tak selamanya bersifat ‘formal.” Yang hanya ‘duduk manis’ mendengar di ruang segi empat (kelas -red) seperti yang telah kita lalui sejak Sekolah Dasar bahkan hingga Perguruan Tinggi. Namun, Pendidikan Islam juga bisa didapatkan dalam lesehan kecil -lingkaran halaqoh-, ta’lim, kajian, madrasah informal, dan melalui fasilitas lainnya.

Sebagai suatu lembaga yang bergerak di bawah mata kuliah Pendidikan Agama Islam, maka Tutorial mengadakan suatu madrasah yang diperuntukkan bagi para Tutor se-UNY sebagai ‘penguat,’ ‘bekal,’ ‘pondasi,’ dalam menebarkan kebermanfaatan bagi semesta umumnya.

Acara yang disingkat Mator ini diselenggarakan dua kali dalam satu bulan, yakni pada minggu pertama dan minggu ke-tiga. Pada kesempatan minggu ke-tiga madrasah tutor ini akan selalu dibersama oleh Ust. Fatan Fantastik, aktivis dakwah, juga beliau seorang penulis.

Seperti biasanya tema yang disampaikan tentang “Dibina Sebelum Membina.” Salah satu komponen dalam membina adalah ta’lim. Apa itu ta’lim? Ialah proses transfer ilmu. “Jadi, dalam membina harus ada proses transfer ilmu dari murobbi ke murobbiah,” ungkap Ust. Fatan.

Tentu transfer ilmu yang dimaksud harus bersumber dari sumber yang benar dan terpecaya. Ust. Fatan menyampaikan bahwa, jika ta’lim terus berjalan dengan baik maka akan memunculkan sifat ‘Khasyiah.’ Khasyiah adalah munculnya rasa takut dari hamba kepada Rabb-nya karena meyakini, memahami, dan menyadari keagungan Allah swt. Kemudian akan muncul buah dari ilmu, yakni baiknya amal dan perbaikan amal dalam diri.

Selain itu, orang yang menuntut ilmu Allah akan ditinggikan derajatnya Seperti firman Allah dalam  Q.S Al Mujaadilah ayat 11, yang artinya :

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu,”Berilah kelapangan di dalam majlis-majlis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.  Dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.”

Dalam diskusi beliau menyampaikan jawaban atas pertanyaan salah seorang peserta. Jika kita dalam kondisi futur, maka ada 4 hal yang bisa kita lakukan untuk membangkitkan kembali semangat juang itu. Pertama, istighfar, kedua adalah do’a, selanjutnya adalah syukur.  Syukur di sini ada dua macam, yaitu syukur wajib dengan melaksanakan amalan wajib, dan syukur sunnah dengan amalan sunnah terbaik. Kemudian, yang keempat adalah bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, ‘para pejuang,’ orang-orang yang ketika kita melihatnya  kita akan mengingat Allah swt.

Mator diharapkan dapat menjadi ‘alarm,’ agar hati senantiasa tunduk dan selalu dalam jalan-Nya. “Yah kesannya, dengan kajian seperti ini dapat menjadi pengingat kita. Agar semakin dekat dengan Allah,” ungkap Dewi Astuti, salah seorang peserta mator ketika ditemui redaktur.

Diakhir kajian Ust. Fatan menyampaikan, tetaplah mencintai Islam dan muliakanlah diri dengan amalan-amalan sunnah terbaik.

(L. A.)