Koordinasi Dosen dan Tutorial PAI 2014; Seminar, Workshop, dan Progress Report

 

koordinasiDinamika Studi Islam Kontemporer, Bapak Andy Dermawan, mengawali serangkaian agenda seminar, workshop dan progress report koordinasi dosen dan Tutorial PAI 2014 (22/10) pukul 08.00 WIB di Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) Universitas Negeri Yogyakarta.
Dalam seminar yang dimoderatori oleh Ibu Dwi Ratnasari Dosen Universitas Negeri Yogyakarta itu beliau mengemukakan, “Telaah studi islam kontemporer adalah memahami bahwa suatu peristiwa tidak terlepas dari masalah yang melatarbelakanginya.” Hal ini berkaitan dengan pendahuluan di awal pembicaraan mengenai dinamika masyarakat muslim dalam merespon persoalan-persoalan yang berkembang secara sporadis atau tak tentu di berbagai lini kehidupan manusia. Bagaimana persepsi dan perspektif seseorang tentang islam.
Hal tersebut kemudian dipaparkan pula oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, bahwa dinamika tersebut dalam proses dialektika membagi Islam ke dalam dua sisi yaitu Islam secara normatif yang bersifat tetap, tunggal, mutlak, dan tidak berubah, dengan Islam yang bersifat historis yang memiliki sifat berubah, plural, dan relatif. Oleh karenanya, dirasa perlu apabila dalam melihat berbagai persoalan, diperlukan pula untuk melihat segala hal yang juga tersurat disamping segala hal yang tersirat. Sebagai contoh manusia diciptakan untuk tunduk dan patuh kepada Allah melalui ibadah, maka bukti ketundukan dan kepatuhan serta kecintaan seorang hamba kepada Allah tidak selalu berputar dalam persoalan ibadah vertikal dengan Allah semata, tetapi mencintai semua umat manusia, mencintai semua makhluk hidup dan juga segenap alam semesta ciptaan-Nya juga adalah bentuk ketundukan tersebut.
Acara koordinasi tersebut, dihadiri oleh di antaranya Bapak Wardan Suyanto (WR I UNY) Bapak Paidi (Staf Ahli WR I UNY) Bapak Sunarso (KetuaPusat MKU UNY) Ibu Vita Fitria (Ketua MKU PAI UNY) Bapak Syukri Widodo (KetuaPanitia) Bapak Suwarna (Sekretaris LPPMP) Bapak Suparlan, Bapak Rifai (Dosen PAI) segenap dosen dari ragam fakultas, serta puluhan tutor putra maupun putri.

Acara kemudian berlanjut pada koordinasi dosen dan Tutorial PAI. Berbicara mengenai menjadi tutor, berarti berbicara melayani. Di tahun 2014 ini tutorial mengadakan tutorial khusus BAQ atau Baca Al-Quran, sebagai sarana bagi para peserta tutor untuk bersama belajar membenahi bacaan Al-Quran. Di samping itu, dibahas pula bahwa Tutorial PAI penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Perhatian terhadap KBM dan penertibannya, koordinasi secara rutin antara dosen dengan tutor secara berkala, masukan untuk mengadakan monitoring dan evaluasi atau agenda publik hearing ketika proses KBMT sudah berlangsung, mekanisme nilai akhir (ujian tutorial) yang meliputi beberapa kriteria seperti kehadiran, keaktifan, ujian praktik dan ujian tulis. Penyelesaian buku, dan membudayakan komunikasi dengan dosen kelas, hingga saling mengenal dan melengkapi, di samping usaha untuk terus meng-upgrade kapasitas tutor dengan aktif belajar, berdiskusi, dan lainnya.

:: Semoga koordinasi Tutorial ini, menjadi media silaturrahmi, juga  sebagai sarana untuk berdiskusi dalam mencapai keberhasilan Tutorial PAI UNY ::

(Ani)

KKN and The New of Me

kuuuuu

  Dalam sebuah tanya seseorang pernah berkata,

“Lama tak bersua.. bagaimana Dek kabar KKNnya?”

“Ya.. begitulah Mbak. “Ajaib!” :Dkubalas sms.

“Berasa benar-benar jadi manusia ya..” jawabnya.

 Ya, banyak hal bisa diurai dari KKN dari hanya sekadar Kuliah Kerja Nyata. Dua huruf ‘K’ di situ dapat mengurai ragam makna mulai dari yang gagah kedengarannya sampai yang apa adanya. ‘K’, bisa berarti kepercayaan, keikhlasan, kemandirian, kebersamaan, kebahagiaan, kesedihan, kangen, kurus, kebingungan, hingga kesalahan-kesalahan di beberapa kelokan perjalanan yang membelajarkan dan mendewasakan. Dan dunia luar, padamu, ia selalu jujur menyuguhkan kenyataan, pembelajaran, dan pengalaman.

Ya, KKN, ataupun KKN-PPL, adalah sejuta cerita. Lahan pembelajaran bagimu dalam nuansa yang berbeda. Campur aduk lelah dan letih dalam sedih tangis tawa dan bahagia. Ambil contohnya saja adalah bagaimana kau benar-benar menikmati setiap kejutan yang ada di dalamnya. Bagaimana kau bertahan dua bulan dalam hawa yang menyergap dingin demi mempersiapkan sahur di bulan puasa, kemudian syahdu, masih berlanjut dengan ketukan tiga kali pada pintu dari seorang bapak beserta ibu, mengajak sholat shubuh berjamaa’h di sebuah mushola yang tak jauh dari rumah.

Sementara di lain waktu, sekali dua, terkadang menertawakan masing-masing diri yang lanjut tidur lagi, karena saat bangun sahur, hampir semua anggota lupa kalau ternyata kehabisan gas dan bahan makanan.

Ya, KKN, ataupun KKN-PPL, adalah sejuta cerita. Lahan pembelajaran bagimu dalam nuansa yang berbeda. Campur aduk lelah dan letih dalam sedih tangis tawa dan bahagia. Ambil contohnya saja adalah bagaimana kau benar-benar menikmati setiap kejutan yang ada di dalamnya. Pernah membayangkan sebelumnya? Jika persis di depan rumahmu, hanya terpisah luasnya halaman dan jalanan, ada peternakan Babi? Untuk selama dua bulan, kau buka jendela berharap menyambut hangatnya sinar mentari dan sejuknya udara pagi tapi…,

Ya, KKN, ataupun KKN-PPL, adalah sejuta cerita. Lahan pembelajaran bagimu dalam nuansa yang berbeda. Campur aduk lelah dan letih dalam sedih tangis tawa dan bahagia. Ambil contohnya saja adalah bagaimana kau benar-benar menikmati setiap kejutan yang ada di dalamnya. Bagaimana kau diuji dan mengaplikasi segala apa yang telah kau dapati dan pelajari. Bagi seorang muslimah, laki-laki dan perempuan dalam satu rumah, di situlah gudang pahala bagimu mempertahankan izzah (kemuliaan diri).

Dua bulan, bersosialisasi dengan sebelas orang yang berbeda kepala berbeda isi, maka sesuatu yang kadang tak menyenangkan, yang sering orang-orang menyebutnya dengan nama ‘Masalah’, adalah teman akrab tak diundang lagi diinginkan namun perginya ia menitipkan jutaan makna pesan tentang kesabaran, penghargaan, penerimaan, dingin dan luasnya pikiran, pemaafan, ruang-ruang pemakluman, lapang dada, rasa terima kasih, tolong menolong, kepedulian dan kasih sayang.

Ya, Banyak hal bisa diurai dari KKN dari hanya sekadar Kuliah Kerja Nyata. Dua huruf ‘K’ disitu dapat mengurai ragam makna mulai dari yang gagah kedengarannya sampai yang apa adanya. ‘K’, bisa berarti kepercayaan, keikhlasan, kemandirian, kebersamaan, kebahagiaan, kesedihan, kangen, kurus, kebingungan, hingga kesalahan-kesalahan di beberapa kelokan perjalanan yang membelajarkan dan mendewasakan. Dan dunia luar, padamu ia selalu jujur menyuguhkan kenyataan, pembelajaran, dan pengalaman. Maka, ‘N’, nilai, tak menjadi sesuatu yang lagi penting.. karena sejatinya semua hal akan baik-baik saja selama kita memiliki kita.

 

Lagi dan lagi, ya, KKN, ataupun KKN-PPL, adalah sejuta cerita. Lahan pembelajaran bagimu dalam nuansa yang berbeda. Campur aduk lelah dan letih dalam sedih tangis tawa dan bahagia. Ambil contohnya saja adalah bagaimana kau benar-benar menikmati setiap kejutan yang ada di dalamnya. Yang paling mengesankan, adalah di mana dalam beberapa kesempatan keadaan, tilawahmu, sujud-sujud dan munajatmu, menjelma menjadi sesuatu yang teramat kau butuhkan, teramat senang untuk kau lakukan dan kau rindukan.

 

Dalam sebuah tanya seseorang pernah berkata,

“Lama tak bersua.. bagaimana Dek kabar KKNnya?”

“Ya.. begitulah Mbak. “Ajaib!” :Dku balas sms.

“Berasa benar-benar jadi manusia ya..” jawabnya.

“Iya Mbak, bangeet…”

“Terus, sekali-kalinya dateng ke kampus, juga berasa jadi orang primitif yang gak tahu apa-apa. Hehehe.. iya gak Dek?”

Dibuat tertawa.

Ya.. kusetujui pernyataan pesan singkatnya. Tapi untuk pernyataan kedua jawabannya hanya masalah usaha. Tak apa. Aku dan adikku (yang berada di kampus), hanya berbeda tempat juang dan belajarnya saja.

KKN: Kesempatan Kamu, Nambah ilmu.

 

 Ani_*

*Bahasa dan Sastra UNY_Media Tutorial PAI UNY

Sekenario di Balik Kunjungan Syawalan

Bismillahirrahmanirrahim,

Atas segenap cinta dan rahmat Allah, setiap makhluk ciptaan-Nya merasakan betapa nikmatnya menikmati udara segar, diberi kelapangan untuk setiap langkah. Sungguh merugi bagi orang-orang yang tidak mensyukuri atas segalanya.
Maka, lagi dan lagi nikmat  Allah yang manakah yang kamu dustakan?

Segala yang ada di bumi bertasbih, bersujud memuji kebesaran Allah Swt.
Ketika Allah memberikan kebahagiaan, kasih-sayang, manisnya iman kepada hamba-Nya, maka tak ada satu-pun yang dapat mengahalanginya.
Betapa pemurah-Nya Sang Rahim kepada setiap sudut hati yang tunduk dan tawadhu’ kepada Sang Pencipta.

Ketika hati orang-orang mukmin disatukan dalam lingkaran cinta atas cinta Allah, maka itulah suatu hadiah dan karunia yang sangat berharga dan tak ternilai.
Mereka berkumpul bukan atas kepentingan asesoris dunia,
bukan atas obsesi ego,
bukan atas sejuta pujian yang semu, melainkan mereka berkumpul ‘hanya’ karena dan untuk Allah Swt.

***
Tepat (16/8) Tim Tutorial PAI UNY melakukan kunjungan syawalan ke kediaman bapak Amir Syamsudin, Dosen PAI UNY. Kunjungan ini merupakan kunjungan part#3 setelah kunjungan ke rumah bu Vita (Pembina Tutorial) dan pak Marzuki (Dosen PAI UNY).

Dalam silaturrahmi singkat itu, beberapa hal yang disampaikan pak Amir dalam obrolan santai malam itu (sekitar pukul 18.50 WIB) terkait mata kuliah PAI. Selain itu beliau juga menghimbau untuk ‘menyaring’ setiap informasi-informasi yang ada, agar kita tetap berada di jalan agama yang sehat (agama yang lurus), tidak  mengikuti arus, mengingat adanya isu yang ada akhir-akhir ini seperti adanya ISIS yang diduga merupakan aliran yang bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

Usai kunjungan sekitar pukul 19.35 WIB, tim Tutorial pun berpamitan dan sangat berterima kasih atas sambutan dan keberterimaan bapak Amir Syamsudin di kediaman beliau, RT 08 RW 27 Pundung , Nogotirto.


Sekitar 25 menit selanjutnya,
sekenario di balik kunjungan malam itu pun menyapa bersama deruan kendaraan malam yang melintas,

Tim Tutorial (yang diwakili oleh 8 orang yang berkunjung) malam itu, melaju menuju Ringroud Utara (menuju arah kota).

Tepat di ujung pembatas jalan antar jalur roda dua dan roda empat ke arah Ringroud Utara, terdapat pembatas jalan yang ‘serong sekitar 80 derajat’ keluar dari barisan pembatas itu. Saat itu, cinta Allah kepada hamba-Nya datang dalam cobaan.

Salah satu dari 8 sahabat Tutorial tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 40 km/jam dan -pembatas jalan pun- menjadi objek utama dalam sekenario tersebut. Sahabat kita yang bernama lengkap Nisa Furqonik  menjadi korban atas ketidakteraturan pembatas jalan yang sudah terpisah dengan bagian lainnya. Sungguh hal yang tidak diduga, ia menabrak pembatas jalan tersebut. Kejadian itu terjadi sekitar 50 meter dari lampu-merah (timurnya RSA UGM).

Beberapa orang berhenti memberi pertolongan.
Darah di sekitar tumitnya  menetes perlahan-lahan …

Melihatnya,
sakit… rasanya…
Namun, tak setetes pun air mata yang jatuh darinya.
Ketegaran yang luar biasa, seolah-olah itu luka biasa, yang tak butuh pertolongan yang lebih.

Darah pun menetes mewarnai kaos kakinya,
namun, lagi dan lagi tak satu -kata pun- teriak tangis- atas luka sakit yang mendera.

“Sabar Nik, sabar Nik…” bisikan suara sahabatnya.
Masih dengan senyum bersimpuh manis, terlihat sangat ridho atas kehendak Allah.

***
Akhirnya, Nisa pun dibawa ke IGD -Rumah Sakit Akademik UGM. Beberapa tenaga medis langsung memberi pertolongan. Semakin terlihat jelas kondisi luka di bagian tumitnya yang harus diberi pertolongan yang lebih. Dengan persetujuan antara pasien dan tenaga medis, diputuskan agar kakinya di-’rontgen’ terlebih dahulu sebelum dilakukan proses penjahitan.

Satu demi satu kabar kecelakaan pun diterima oleh para sahabatnya, para aktivis serta teman-teman yang mengenalnya.
Dan tak lama kemudian, para sahabat, kakak-kakak senior datang dengan segenap cinta dan kepedulian atas dasar Iman karena Allah Swt.

Itulah seorang muslim,
“Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara,…” (QS. Al-Hujurat :10)

Ketika saudaranya sakit,
maka sejatinya ia -lah yang sakit, bahkan mungkin lebih sakit.

Sangat dan sangat indah sekali, ketika persaudaraan orang mukmin itu disatukan karena iman kepada Sang Pencipta.
***

Itulah sedikit kisah “Sekenario di Balik Kunjungan Syawalan.”
Banyak hal yang bisa dipetik, satu di antaranya
Keridhaan seorang hamba atas kehendak Rabbnya.

*Ilustrasi pembatas jalan
Picture1awass

(L.A. Pen)

 

Story _Inspire_

Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah sebuah kegiatan yang menyeramkan, ekstrim, bahkan berisiko kematian. Akan tetapi, bagi sebagian yang lain, mendaki gunung tak ubahnya hanyalah sebuah kegiatan  biasa yang tidak berbahaya, menyehatkan, bahkan menyenangkan. Mungkin, cinta adalah penyebab utama perbedaan sudut pandang tersebut terjadi.

Sebagai contoh, seseorang yang tidak mencintai aktifitas pendakian, ia akan cenderung menganggap bahwa kegiatan tersebut adalah kegiatan yang tidak bermanfaat, memperlelah diri, membuang biaya, dan lain sebagainya. Namun sebaliknya, seseorang yang telah memiliki cinta terhadap dunia pendakian, ia justru akan menganggap bahwa kegiatan yang ia tekuni tersebut mengandung banyak manfaat. Kedua buah sudut pandang yang sangat berbeda tentunya. Namun, perbedaan bukanlah sebuah persoalan, selagi para pemilik perbedaan itu saling hormat.

Mendaki gunung memang tak mudah, tapi juga tak sulit. Banyak pendaki yang gagal mencapai puncak, bahkan meninggal dunia di tengah perjalanan, oleh sebab ia terlalu memudahkan. Pun sebaliknya, banyak orang yang ingin mendaki, namun ia tak kunjung pergi mendaki, oleh sebab ia terlalu banyak berpikir. Maka dengan tegas, saya berani berkata: Mendakilah, jika kau yakin!

Saya sepakat bahwa, mendaki gunung memang memerlukan kesiapan dan kelengkapan. Namun, jika menunggu kesiapan dan kelengkapan itu hadir, maka sungguh, tiada satu pun gunung yang akan ramai oleh para pendaki. Karena menurut saya, tolok ukur kesiapan seseorang begitu abstrak dan tak jelas. Pun dengan tolok ukur kelengkapan. Tolok ukur kelengkapan tentulah sangat banyak dan mahal harganya jika dirinci. Maka, apabila kita tidak punya perlengkapan pendakian, pinjamlah! Karena sejatinya, kesiapan maupun kelengkapan terpenting dalam melakukan pendakian adalah kesiapan dan kelengkapan mental. Jika mental seseorang sudah siap, maka tanpa perlengkapan materil yang lengkap pun, seseorang tetap bisa menggapai puncak dan dapat kembali turun dengan selamat.

Ada sedikit kisah. Suatu ketika, saya pernah melakukan pendakian seorang diri ke gunung Merbabu. Kala itu, saya hanya membawa bekal empat buah roti kecil, dua botol air minum 1,5 liter, kantung tidur, pakaian ganti, jas hujan, dan sejuta ambisi. Perlengkapan yang saya bawa memang tidak standar pendaki.  Bahkan, tenda saja saya gak bawa. Tapi, mau bagaimana lagi? Kondisi ekonomi yang  begitu terbatas telah memaksa saya untuk melakukan aksi nekad itu. Meski demikian, buktinya saya tetap bisa sampai ke puncak dan turun lagi dengan selamat berkat sejuta ambisi yang saya bawa. Alhamdulillah.

Mendengar cerita tersebut, seorang teman pun bertanya pada saya,

“Apakah kau tak takut mendaki seorang diri?”

Saya pun tersenyum lalu menjawab,

“Justru karena saya takut, saya melakukan hal tersebut. Saya sangat ingin melawan rasa takut yang ada. Toh, saya pun percaya, meskipun saya terlihat mendaki seorang diri, sebetulnya saya tak benar-benar sendiri. Di jalan, kelak saya akan betemu pendaki lain yang entah turun ataupun sama-sama naik. Kalaupun tak berjumpa, masih ada tumbuhan dan suara alam, serta rembulan dan gemintang yang kelak saya temui. Kalaupun tidak berjumpa lagi, saya tetap tidak akan takut, karena masih ada Allah yang selalu menemani. Ia memang tak tampak, namun dapat terasa.”

Mendaki dengan kelengkapan seadanya tak hanya sekali dua kali saja saya lakukan, melainkan sudah beberapa kali. Kesimpulannya pun selalu sama, yakni tentang kesiapan mental. Bahkan ada lagi kisah yang lebih gila. Yakni, tentang seorang pendaki yang cacat kakinya, namun ia berhasil mendaki hingga puncak. Bahkan, prestasi yang beliau miliki di dunia pendakian pun melebihi prestasi para pendaki lain yang fisiknya normal.

Kisah tersebut tentu semakin meyakinkan saya, bahwa yang paling dibutuhkan dalam melakukan pendakian ialah kesiapan mental. Saya tidak pernah berkata bahwa kesiapan materil itu tidak penting. Saya hanya ingin menekankan bahwa, kesiapan mental jauh lebih berarti ketimbang kesiapan yang bersifat materil.

Seseorang yang memiliki kesiapan mental, tidak akan pernah takut terhadap badai, dingin, gelap, panas, lelah dan hujan. Ia akan terus menjaga ambisi yang ia miliki, hingga ambisi tersebut dapat ia capai. Kita semua tahu, tak akan ada ambisi yang tercapai bilamana sang pemilik ambisi tersebut mati. Maka sungguh, kesiapan mental akan melahirkan keratifitas. Melahirkan berbagai macam cara untuk tetap hidup.

Menghadirkan kesiapan mental memang tak mudah. Ia hanya akan hadir pada jiwa-jiwa yang memiliki rasa cinta. Tanpa cinta, mustahil kesiapan itu hadir. Kendati demikian, jika ada yang bertanya pada saya,

“Apakah hal tersulit  dalam mendaki gunung?”

Saya tidak akan menjawab,

“Hal tersulit adalah menghadirkan kesiapan mental.”

Tetapi, saya akan menjawab,

“Hal tersulit adalah melawan kesombongan yang ada di dalam diri! Sebelum, sesaat bahkan sesudah mendaki, kesombongan itu akan terus menghantu. Bahkan, pada saat saya menceritakan kisah pendakian saya kepada kalian seperti saat ini pun, kesombongan akan tetap ada. Sekecil dan sebesar apapun itu!”

Ya, banyak orang yang sepakat bahwa, hakikat mendaki gunung ialah melawan diri sendiri. Melawan ego, lelah dan takut yang ada. Salah satu ungkapan populer dikalangan pendaki gunung pun menyepakati hal itu. Sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa,

“Bukan kita yang menaklukan puncak, melainkan puncaklah yang menaklukan kita.”

Mungkin, dalam kehidupan pun demikian. Seseorang yang telah memahami hakikat hidup dan cinta terhadapnya, maka sungguh, ia tidak akan pernah takut terhadap berbagai masalah yang menghadang. Masalah bukanlah momok yang harus ditakuti, melainkan keniscayaan yang harus dilalui. Kelak, masalah akan ia anggap seperti pos-pos yang terdapat di gunung. Tanpa melewatinya, jangan harap puncak diraih.

Juga tentang kesiapan mental. Banyak orang kaya yang hidupnya sengsara, oleh sebab ia tak siap dengan kekayaan yang dimilikinya. Dengan sebab serupa, banyak pula orang miskin yang hidupnya sengsara. Maka sugguh, kebahagiaan bukanlah soal kaya atau miskin, rupawan atau buruk rupa, lengkap atau cacat, kalah atau menang dan lemah atau kuat. Melainkan, tentang siap atau tidaknya kita menerima apa yang telah diberi oleh Sang Maha Pemberi.

Maka, berbahagialah bagi mereka yang siap menerima!!

Aditya Eko Prasetyo (Pend. Seni Rupa 2012)*

*HMR_Tim Kreatif Tutorial PAI UNY 2014

Suara Peserta KBM Tutorial

Kegiatan Belajar Mengajar, atau singkatnya KBM merupakan suatu rangkaian dalam tahap menuntut ilmu. Nah di Tutorial sendiri ada yang namanya KBMT yaitu Kegiatan Belajar Mengajar Tutorial Pendidikan Agama Islam. KBM yang  dijalani tidak sama saat berada di dalam ruangan kuliah, karena terdiri dari beberapa orang dan semuanya tidak berasal dari kelas yang sama, hanya saja prodinya yang sama yang dibimbing oleh seorang mentor muda, yaitu kakak tingkat yang siap berbagi dalam mengakaji ilmu-ilmu agama Islam.

Sedikit saya akan menceritakan perjalanan saya ketika mengikuti KBMT…
Awalnya saya berpikir pasti akan membosankan dan membuang-buang waktu, karena Tutorial ini hanya masuk  dalam 1 SKS dalam MATKUL PAI. Namun, setelah mengikuti kegiatan itu salama beberapa minggu saya pun berpaling dari anggapan tentang KBMT PAI. Ternyata menyenangkan, Kawan. Kita diajarkan membaca Al-quran dan kita saling berbagi jika salah satu ada yang belum lancar pasti dibantu oleh mentornya malah biasanya ada kata-kata motivasi untuk penggugah diri.

Kadang kita dikasih waktu tuk belajar sendiri menerangkan ilmu kepada teman yang ada di lingkaran kita. Belajar bertausyiah menjadi ‘makanan’ sehari-hari jika sudah ada di dalam KBMT PAI. Menyenangkan walaupun masih melihat buku panduan ^_^. Karena Rasulullah bersabda “Sampaikanlah walaupun satu ayat”. Dari kegiatan itu, kami pun mulai bertanya-tanya dan memahami tentang ilmu Islam. Padahal awalnya hanya bersifat masa bodoh tak peduli sama sekali. Namun, ketika diterangkan berbagai hal tentang indahnya Islam kami menjadi sangat tertarik.

Coba Kawan pikirkan kuliah PAI yang 3 SKS hanya didapat 1 semester saja apakah akan mengena di hati? Dan apakah baik bila tak ada penerapannya? Nah, maka dari itu tim Tutorial mengadakan yang namanya KBMT PAI yang merupakan bagian dari matkul PAI. Lalu jika Teman-teman masih ingin melanjutkan untuk terus dan terus belajar dalam lingkaran Tutorial  di semester selanjutnya maka itu lebih baik. Pihak Tutorial pun akan menanggapi dengan senang dan Teman-teman akan diberikan mentor sesuai harapan Teman-teman, so, yuk ikuti KBMT PAI, jangan sampai tidak mengikutinya, nanti kamu menyesal loh…

Yuyun Amshary (Kimia, 2012)*
(*HMR Tutorial PAIN UNY 2014)