SPN, UNY dan Tutorial

­­Picture11

Menurut UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam rangka mencapai tujuan di atas, maka peran lembaga pendidikan menjadi garda utamanya. Universitas Negeri Yogyakarta, misalnya. Sebagai kampus pendidikan, memilki peran penting dalam hal ini.

Melihat kembali kata bercetak tebal pada paragraf pertama, mengindikasikann bahwa karakter itu merupakan buah yang diharapkan dari SPN. Maka, sejalan dengan ini UNY –pun menanamkan Character Education yang diterjemahkan dalam tiga poin utama, yakni Bertaqwa, Mandiri, Cendikia.

Di awali kata bertaqwa, karena segala sesuatu sejatinya harus dilandaskan atas dasar ketaatan, ketaqwaan kepada Sang Pemilik Semesta, Allah swt. Sehingga tebentuklah keseimbangan antar IQ (Intelligent Quotien), EQ (Emotional Quotien) dan SQ (Spiritual Quotien). Spritual sebagai pondasi, Akademik oke, cerdas emosioanalnya.

Lalu, bagaimanakah peran Tutorial PAI UNY sebagai lembaga di bawah Pendidikan Agama Islam dalam membentuk insan berkarakter?

Tutorial yang sudah berdiri sejak tahun 1990 –an ini merupakan sarana praktis dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dalam upaya membentuk karakter mahasiswa.

Berbicara tentang karakter, maka cermin yang tepat adalah sosok, Nabi Allah, Muhammad saw. Maka, melalui Tutorial inilah diharapkan akan membentuk sebagaimana karakter Rasulullah seiring dengan proses KBM.

Secara garis besar ada tiga  misi Tutorial PAI UNY, yaitu aqidah, akhlak, dan ibadah. Ketiga misi ini disampaikan melalui kegiatan belajar mengajar dalam materi inti. Selama proses KBM, tutor tidak hanya berperan sebagai guru, inspirator, namun juga sebagai sahabat para peserta.

Sebagai output dari kegiatan Tutorial, mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapatkan. Terutama membentuk mahasiswa berkarakter, seperti adanya sifat jujur, fathonah (cerdas), tabliq (menyampaikan), dan amanah (dapat dipercaya/tanggung jawab).

(L.A. –P)

Siapakah Wakil Rakyat itu?

Picture3

Pemilu Umum (Pemilu), suatu ajang yang akan kembali menjadi trend topik di dunia politik. Bagaimana tidak, pemilu merupakan suatu gerbang menjadi Winnable Candidite.

Dalam pesta menjelang pemilu, berbagai terobosan dimainkan oleh partai politik untuk memenangkan calon yang siap diusung menjadi kandidat wakil rakyat. Misalnya, Money Politic. Politik uang ini, mungkin tidak asing lagi di tengah masyarakat dan sudah menjadi rahasia umum. Dan, melalui politik inilah calon wakil menjadi publik pigure yang menang popularitas. Permainan itu didukung karena memang umumnya calon wakil rakyat notabene dari kalangan – kalangan yang ber-duit. Seolah-olah tanpa uang, tanpa suara. Hal yang sangat memperihatinkan. Bagaimana hak memilih bebas untuk menentukan pilhan ‘terpaksa’ dibeli dengan materi. Jika ini yang terjadi maka asas ‘bebas’ berdasarkan Ketetapan Majlis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/1988 tentang pemilihan umum belum terealisasi. Karena dalam asas ini  setiap warga negara berhak memilih bebas tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun. Sehingga dapat menjalankan haknya sesuai dengan hati nurani.

Menyedihkan, memang.

Mengingatkan kita dalam sebait lirik lagu dari Iwan Fals yang berjudul ‘Politik Uang,’ berbunyi :

Uang adalah bahasa kalbu

Santapan rohani para birokrat

Tentu saja tidak semuanya

Tapi yang pasti banyak yang suka

Alangkah ironisnya jika demikian yang terjadi. Di manakah pendidikan yang selama ini diperjuangkan oleh orang – orang hebat itu? Sebatas teorikah? Semoga tidak, dan tidak demikian.

Sejatinya, dalam memilih wakil rakyat bukanlah dilihat dari aspek visual, yang menitik beratkan pada hal-hal yang tampak dari luarnya. Akan tetapi, sebaliknya perlu diperhatikan hal-hal yang lebih bersifat substansi seperti kapabilitas, merakyat, adil, iman, ataupun kejujurannya. Kapabilitas, misalnya. Berarti Ia mampu menjadi wakil rakyat, yang dapat menunaikan amanat-amanat rakyat.

Siapakah Wakil Rakyat itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wakil bermakna sebagai orang yang dikuasakan sebagai ganti, sulih, orang lain ; orang yang ditunjuk atau dipilih sebagai utusan negara, perkumpulan, rakyat dan sebagainya.  Sementara rakyat adalah penduduk suatu negara. Sehingga jelas bahwa wakil rakyat adalah orang yang diberikan mandat untuk memainkan peran dan fungsinya sebagai ‘tangan kanan’ rakyat.

Sebagai wakil rakyat, hendaknya bersifat merakyat. Merakyat berarti sampai ke rakyat. Tidak hanya merakyat di saat menyuarakan siapa dirinya yang akan siap maju menjadi wakil, akan tetapi merakyat hingga duduk di kursi yang diberikan rakyat.

Hal yang tidak kalah penting yang harus dimiliki oleh sosok wakil rakyat adalah keimanan. Yah, iman. Jika imannya  baik, maka tidak akan ada ‘skandal’ dalam hal apapun. Nilai – nilai luhur akan tercermin dalam pelakasanaan amanat. Sehingga apa yang menjadi tujuan negara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945  alinea ke – IV akan terlaksana baik karena dibawah wakil – wakil yang berbudi.

Oleh karena itu, sebagai rakyat dan calon pemilih hendaknya kita menilai terlebih  dahulu siapa calon wakil rakyat yang ‘benar – benar’ akan menjadi wakil suara rakyat.  Karena realita yang terjadi di lapangan terkadang tidak seperti apa yang diharapkan rakyat.

Jika kita kembali menyoroti suasana menjelang pemilu, tidak jarang calon wakil rakyat berpesta janji di kala sebelum dan saat kampanye. Seolah-olah hal itu kian menjadi tradisi di musim pemilihan umum. Rakyatpun mendengar dengan saksama dan penuh harap akan segala sesuatu yang dijanjikan. Tidak salah, memang. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, bahwa calon wakil rakyat harus memahami, menyadari dan menjalankan perannya sebagai artikulator, pembawa aspirasi di dunia realita. 

Sebagai Artikulator, maka seyogyanya ia memiliki kemampuan emosional yang berarti adanya kepekaan  terhadap realita, kehendak rakyat. Pembawa aspirasi, merupakan penyambung suara rakyat. Bukanlah orang yang yang memiliki kuasa tertinggi di atas rakyat, namun tidak lebih dari orang yang diamanatkan oleh rakyatnya.

Maka, beribu harapan, rakyat sangat berharap akan amanat yang akan diberikan kepada wakil rakyat. Tidak hanya pandai bersuara, beretorika, namun pandai dalam memahami suara rakyat, itulah hakikatnya.

(L.A. -P)

                                                                                   

      

MAPRES FE 2014; High Risk, High Rating

 

Picture1Akrab disapa dengan panggilan ‘May’, mahasiswa berprestasi Fakultas Ekonomi UNY 2014 asal Ketapang, Kalimantan Barat ini memiliki nama lengkap Siti Munasiroh. Jurusan Pendidikan Manajemen angkatan 2011, aktif di Tutorial PAI bidang kurikulum, Forum Studi Ekonomi Islam (FOSEI) dan Islamic Mini Bank, sebuah lembaga yang ia rintis sendiri.

Menjadi Mapres, bukan hal yang terpikirkan olehnya. Memasuki pintu-pintu seleksi dengan banyaknya saingan serta minimnya persiapan pengumpulan berkas sedikit membuat hatinya ciut diawal. Namun didorong dukungan dan semangat dari kawan-kawan serta para dosen, alhamdulillah ia berhasil lolos.

May menuturkan, dalam penilaian mapres, yang terpenting adalah tiga hal. Kepribadian, prestasi, dan akademik. Kepribadian menjadi teramat penting karena menjadi mapres artinya kita siap menjadi teladan. Bagaimana berbaur dan berusaha menginspirasi teman-teman disekitar. Mengenai prestasi, anak pertama dari dua bersaudara yang hobi jalan-jalan ini memiliki segudang prestasi. Diantaranya yaitu Juara Harapan I Desa Binaan di Bogor, Jawa Barat, Juara I LKTI BPD DIY, Juara I Lomba Essay OMUNY, Juara I Orasi OMUNY, Juara Harapan I Laguange Youth Conference, dll.

Bagi May, menjadi seorang mapres juga merupakan sebuah amanah. Utamanya sebagai seorang muslim, bagaimana agar gelar yang tersemat padanya ini dapat memberikan manfaat dan contoh yang baik bagi yang lain.

Bicara soal mapres, maka yang otomatis langsung terpikir dalam benak adalah segala sesuatu yang ‘wah’, ‘high’, atau ‘perfect’. Mengenai anggapan ini, May mencoba menjawab, “Kembangkan segala sesuatu yang kita miliki. Jika boleh mengutip prinsip investasi dalam ilmu ekonomi, ‘high risk, high rating’. Resiko tinggi yang kita ambil, akan berbanding lurus dengan yang kita dapatkan. Sama artinya ketika kita berusaha maksimal, maka apa yang akan kita raih pun hasilnya akan seperti apa yang kita korbankan, seperti apa yang kita usahakan dan ikhtiarkan. Bagi saya, pada dasarnya setiap mahasiswa adalah mahasiswa berprestasi. Berprestasi dengan keunikan, cara, dan ciri khas minat dan bakatnya sendiri. Saya mungkin punya banyak prestasi dibidang ekonomi, namun belum tentu dibidang sastra, lukis atau musik. Terakhir, khususnya bagi para aktivis, adalah pada apa yang kita lakukan. Bukan semata pada apa yang kita katakan”.

Ya, tidak ada yang tidak berbakat. Hanya sejauh mana kita mau bersahabat dengan keringat.

(Ani).

Menjadi Guru itu, Tergugah atau Tergugat?

1323912388_291321838_3-Experienced-Academic-Tutor-New-York

https://www.google.com/search?q=tutor&espv=210&

Ada banyak hal di sekeliling kita yang terkadang kita remehkan dan jarang terjamah oleh perhatian kita, padahal beberapa di antaranya, tidak sedikit yang justru memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita. Maka benarlah petuah kehidupan : “beruntunglah orang-orang yang dapat mengambil hikmah/ pelajaran dari masa sebelumnya,”karena orang-orang yang bisa mendapatkan hikmah adalah mereka yang menggunakan akal dan mata hatinya untuk berpikir. Pengalaman di masa lalu, maka layaklah ia disebut sebagai guru kehidupan, karena ia yang mengajarkan bagaimana sebuah kesalahan itu tidak seharusnya terulang.

Memang, ke mana kita akan melangkah diri kita sendirilah yang menentukan, tetapi adakah kita pernah berterima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita mengajarkan tentang bagaimana memuliakan diri sebagai hamba Allah yang papa akan ilmu. Kita tetaplah orang yang bodoh tanpa seorang guru dan kita masih orang yang bodoh meskipum kita mengaku berpendidikan tinggi sekalipun.

Ada yang mengharukan ketika wajah-wajah jujur dan penyantun itu, harus tersingkir oleh nafsu segerombolan “buas” yang kelaparan. Keringat dan kasih sayang mereka yang begitu tulus selama ini, harus berebut desak dengan iming-iming naik pangkat dan embel-embel uang di mejanya. Sungguh, betapa ternodainya harga mulia yang selama ini tersemat untuk guru-guru kita, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Walaupun demikian memang sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi kepada mereka, yang seharusnya tidak melulu menjadikan uang sebagai patokan kehormatan, tetapi lebih dari itu.

Prestasi seorang anak, menjadi isyarat yang nampak bahwa seorang guru itu pernah ada dan membuat seseorang itu ada. Siapa yang membuat Hellen Keller, seorang yang hanya bisa melihat kegelapan dan mendengar kesunyian, bisa bertahan hidup? Ya, tentu kehendak Allah! Tetapi, bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali jika kaum itu mau berusaha mengubahnya?! Lantas bagaimana dengan seorang Hellen Keller, yang berulang kali mencoba bunuh diri karena frustasi dengan kehidupannya, menjadi seorang yang buta dan tuli?! Seorang guru penyabar pun datang, ia mulai mengenalkan Hellen pada kehidupan. Belajar mengenal dan mengeja sebuah kata yang memberikan tetes-tetes kehidupan, dan zat pertama yang ia kenal adalah air.

Pernahkah kita membayangkan betapa tersiksanya menjadi seorang Hellen Keller, yang hanya berbekal indera peraba dan pencium, sementara kini semangatnya yang mahsyur bisa menggugah jiwa mati jutaan orang yang mengenangnya. Ia menjadi tokoh besar yang begitu dikagumi karya-karyanya, semangatnya dan sosoknya. Dan titik puncak yang tercapai ini, tidak terlepas dari perjuangan seorang guru yang mendampingi dan mengajarkan ia tentang kehidupan. Sosok guru yang jauh lebih bahagia, dihargai dengan sebuah prestasi muridnya, daripada hanya sebatas rupiah ataupun dollar.

Kehormatan seorang guru bukan terletak pada berapa tumpuk pundi-pundi rupiah yang ia dapatkan selama setahun ia mengajar, melainkan seberapa bermanfaat ilmu yang ia bagikan kepada murid-muridnya sehingga menjadikan mereka bermartabat. Ironis, ketika pendidikan begitu mendapat perhatian pemerintah negeri ini; guru ditingkatkan kesejahteraannya, dana BOS bergilir, tetapi kualitas produk pendidikan masih saja semrawut. Tawuran pelajar di mana-mana, sex bebas, narkotika dan segala jenis penyimpangan sosial lainnya, menunjukkan betapa bobroknya moral generasi muda negeri ini. Ada yang salah dengan kondisi ini, entah pendidikannya atau bahkan sangat mungkin kualitas sumber daya pendidiknya yang bermasalah.

Jadi, menjadi guru itu tergugah atau tergugat? Tidak ada yang salah di antara keduanya, memutuskan untuk memilih menjadi seorang guru adalah karena kita tergugah untuk peduli terhadap masa depan negeri ini. Lalu, apakah menjadi seorang guru itu, tergugat? Tidak melulu harus berprofesi sebagai guru ataupun menyandang status guru. Bukankah kita sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya?Maka,  yang paling penting adalah mengajarkan ilmu tersebut , walaupun hanya satu ayat.

(Win)

 

Sosok Mapres FMIPA UNY 2014

 

sss

Berbuat lebih dari orang biasa.  Itulah prinsip dari Purwoko Haryadi Santoso.  Ketika orang lain memanfaatkan waktunya ‘satu jam’ untuk belajar, maka ia menggunakan lebih dari ‘satu jam’ untuk belajar. Ketika orang lain hanya mengisi masa perkuliahan dalam ruang kelas, maka ia akan menambahkan dengan aktivitas lain. Organisasi, misalnya. Karena, menjadi yang TERBAIK butuh perngorbanan yang LEBIH dan yang TERBAIK pula.

Ketika ditanya mengenai hobi, mahasiswa berkaca mata ini, sedikit bingung menjawabnya. “Hobi? Apa yah …, kalau saya suka browsing internet. Yah membuka ‘Kaskus’ gitu. Di Forum itu, kita bisa saling sharing, diskusi, dan tentunya kita mendapatkan informasi terupdate.” Urai Koko.

Tidak semata-mata memanfaatkan waktu hanya dalam ruangan segi empat, mendengarkan,  mencatat, lalu pulang. Namun, lebih dari itu ia mengisi ruang waktu dengan mengembangkan diri melalui dunia mini masyarakat. (Organisasi –red). Dengan ikhtiar untuk menyeimbangkan antara akademik dan organisasi.

Hal di atas dapat kita lihat dari kontribusinya dalam kegiatan ekstra kulikuler semenjak  menjadi mahasiswa baru. Berawal dari 2011, ia mengikuti KBMT Tutorial. Menurut Koko, Tutorial itu penting. Karena dengan Tutorial dapat meningkatkan kapasitas diri terutama dalam membaca Al-qur’an seperti yang ia rasakan. “Semangat membaca Alqur’an, tilawah menjadi meningkat.” Tuturnya.

Menuju tahun 2012, ia bergabung dalam HASKA Study Club (HSC). Dan, di tahun yang sama anak sulung dari bapak Kayadi ini juga menjadi Tutor. Baginya, menjadi Tutor itu berarti belajar untuk lebih care dengan adik tingkat (adik binaan –red), belajar membina. Hingga 2013, ia kembali mengembangkan kecintaannya di dunia akademik dengan menjadi Direktur HSC. Dan 2014 menjadi staff Kajian dan Riset Strategis BEM KM UNY.

Kemudian prestasi utamanya di tahun 2014

Mahasiswa kelahiran Jakarta 20 Oktober 1993 ini, kembali mengukir prestasi dengan menjadi Mapres FMIPA UNY setelah prestasi-prestasi lain yang diperolehnya termasuk menjadi  juara II Olimpiade Sains Nasional Pertamina tingkat provinsi. Ternyata, ia telah  memiliki visi untuk menjadi mahasiswa berprestasi semenjak menjadi mahasiswa Pendidikan Fisika 2011. Suatu kebahagian tersendiri. Namun, di balik keberhasilan ini, dengan kerendahan hati ia mengungkapkan bahwa sosok Koko ingin  menjadi inspirasi bagi orang lain.

Sukses  ya Ko, semoga semakin menginspirasi, senantisa berbagi dengan orang lain. Semangat menerobos mimpi-mimpi selanjutnya. Akademik oke, organisasi yes, ngajinya keren.

(L.A. -P)