TUTORIAL PAI UNY 2020 MATOR (Madrasah Tutor) #1

WHO AM I??

Syahadatain

Oleh Ust. Nuryasin, S.Pd

Syahadat merupakan  urutan pertama dari lima Rukun Islam yang wajib diamalkan oleh setiap Muslim. Syahadat terdiri dua kalimat persaksian yang disebut dengan syahadatain, yaitu: Asyhadu an-laa ilaaha illallaah (ا شهد أن لا إله إلا الله) yang artinya “Saya bersaksi tiada Tuhan Selain Allah”.  Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah (و اشهد أن محمد ر سو ل الله) yang artinya: “dan saya bersaksi bahwanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Konsep Pemahaman Diterimanya Ibadah Ada Dalam Syahadatain

Syahadatain mengandung dua unsur kalimat syahadat, syahadat tauhid dan syahadat rasul. Syahadat tauhid yang nantinya bermuara kepada keikhlasan dan syahadat rasul yang akan bermuara kepada ittiba’ kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana kita ketahui, Jumhur Ulama bersepakat syarat diterimanya ibadah adalah ikhlas dan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah SAW.

Sebelum bisa memahami syahadat maka akan terasa berat untuk melakukan sholat, zakat, puasa, haji. Maka sangat berkaitan antara syahadat dengan yang lainnya.

“Saya sudah bersyahadat kok” tapi belum tentu yang sudah bersyahadat bisa langsung beribadah dengan hebat, sholat tepat waktu, dll.

Bisa jadi hal ini karena adanya konsep kehilangan pemahaman, kalau pemahaman tidak diulang-ulang maka tidak akan ter recharge/akan hilang, seperti hp yang dipakai berkali-kali maka baterai akan capek/futur. maka perlu adanya recharge, recharge iman dengan ke majelis ilmu. Juga untuk mecharge pemahaman kita.

Konsep syahadatain ada 2, yaitu ma’rifatullah dan ma’rifaturrasul. Hal ini sangat fundamental perlu untuk diketahui dan dipahami, jadi bukan hanya berikrar dengan lisan untuk menyatakan bahwa kita bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, tapi juga dalam hal perilaku.

Tapi masalahnya bagaimana kita bisa menerapkan ma’rifatullah dan ma’rifaturrasul? Bagaimana kita bisa percaya walau kita belum pernah bertemu dengan Allah dan Rasulullah secara langsung?

Tapi sekarang kita balik, bagaimana kalian bisa percaya/yakin kalau orang tua kalian beneran orang tua kalian? Ya, bisa lewat akta kelahiran dan kesaksian orang-orang terdekat (orang yang berhubungan dengan keluarga atau menyaksikan secara langsung). Seperti halnya bagaimana kita bisa percaya dan yakin dengan Allah dan Rasullah SAW, yaitu dengan melalui Al-Qur’an, Hadist, dan para sahabat.

Ma’rifatullah dan Ma’rifaturrasul adalah konsep yang diturunkan Allah untuk dipahami oleh manusia dalam melakukan suatu amalan/ibadah. Untuk dapat ma’rifatullah kita perlu untuk menyakini Al-Qur’an dan Hadist. Dengan apa? dengan membaca dan menyakininya. Dengan menyakini Al-Qur’an maka kita juga akan percaya akan Rasulullah.

Kalau kita masih jauh dengan mengenal Al-Qur’an dan hadist, maka kita juga masih jauh akan Allah dan Rasul. Hal ini akan berpengaruh dengan tingkat keyakinan kita terhadap segala sesuatu yang Allah telah tetapkan.

Semisal kita kehilangan segala sesuatu dari titipan Allah apakah kita masih bisa percaya dan ridho dengan keputusan Allah? Jadi mengapa selama ini keimanan kita masih belum merasa sepenuhnya yakin dengan Allah dan Rasul? Ya, karena masih jauhnya kita dengan Al-Qur’an dan hadist .

Syahadat sangat perlu selalu diperbaharui. Apa yang perlu diperbaharui?

Yaitu syahadat secara lisan dan konsep pemahaman akan syahadatain. Syahadat secara lisan penting, tapi konsep pemahaman akan syahadatain (Ma’rifatullah dan Ma’rifaturrasul), ini lebih penting untuk terus diperbaharui, karena kalau tidak diperbaharui maka akan lama-lama rusak, susah untuk beribadah, malas untuk sholat tepat waktu, dll.

Kunci untuk mengenal Allah dan Rasul adalah dengan mengenal Al-Qur’an dan Hadist, yaitu dengan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an dan Hadist.

Seperti halnya dengan ketertarikan kita akan lawan jenis. Kecenderungan akan lawan jenis itu dimulai dengan mengenal. Jika tertarik kita akan cenderung mencari tahu, dan ingin melakukan interaksi lebih untuk lebih dekat lagi, contoh menikah, harus mengetahui lebih jauh lagi, lalu ke tahap menyakini. Ketertarikan akan lawan jenis akan bertambah seiring dengan banyaknya interaksi kita dengan lawan jenis. Kita tidak akan tertarik dengan lawan jenis apabila interaksi kita hanya sedikit, seperti ga lihat status, dll.

Intinya sama dengan hubungan kita ke Allah, kalau kita ingin dekat dengan Allah maka yang kita lakukan adalah mengenal dulu, berusaha berinteraksi dengan Allah. Tapi kalau sehari aja kita jarang baca al quran bagaimana bisa kita dekat dengan Allah?

Ada sebuah kisah, dimana ada suatu masjid yang saat setiap tarawihnya dapat menghatamkan al-quran atau 30 juz. Dikisahkan Beliau yang merupakan ahli tafsir  sholat tarawih di masjid itu tanpa mengetahui bahwa disana menggunakan 30 juz atas ajakan gurunya. Saat melaksanakan sholat beliau merasakan kok lama banget ya, ternyata beliau baru tau kalau itu menggunakan 30 juz. Namun luar biasanya, ada seorang kakek yang berdiri tegak luar biasa. Padahal kalau kita capek kita akan menggerak-gerakkan anggota tubuh kita. Nah beliau heran, kok ada kakek2 sholat tegak berdiri tanpa keresahan ketika imam membaca surat panjang. Kemudian saat ada kesempatan beliau bertanya kepada kakek itu,

Beliau  : “kek, Kakek hafal al quran?”

Kakek  : “Tidak”

Beliau  : “kek, Kakek jurusan ilmu tafsir?” (ya kalau tidak hafal al-quran kan setidaknya bisa paham sedikit-sedikit tentang tafsirnya jadi bisa menghayati)

Kakek  : “Tidak”

Sementara beliau itu hafal al quran dan tafsir, kemudian ustadz ini bertanya lagi kepada kakek tersebut,

“ kek, saya jurusan tafsir dan hafal al quran tapi kok saya masih menggerak2an anggota tubuh saya sehingga saya ga nyaman untuk melaksanakan sholat ya? padahal saya mengetahui isi semua yang dibacakan imam tadi. Sementara kakek biasa2 aja padahal kakek tidak tau isi bacaan tadi?”

Kemudian si kakek menjawab,

“iya nak, karena selama ini kamu berdiri dengan menggunakan tenaga, sementara aku berdiri dengan IMAN.”

(sumber dari ustadz Hanan Attaki)

Jadi beginilah kalau orang sudah bisa berdiri dengan iman. Kita perlu membiasakan diri untuk bisa ketahap itu. Seperti halnya TNI, kenapa anggota TNI bisa push up 1000x dalam 30 menit? Karena mereka terbiasa. Maka perlu untuk terus membiasakan diri untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dan Hadist.

Kisah sahabat Abdurrahman bin Auf, adalah salah seorang hijrah ke Madinah dia tertinggal. Beliau sangat luar biasa kaya nya. Dalam perjalanan ke Madinah, tiba-tiba Beliau diajak oleh sekumpulan orang dan adu fisik. Di akhir pertarungan itu, beliau berkata

“Kalau yang kamu butuhkan adalah nyawaku ayo tarung. Saya ahli pedang, saya bisa membunuhmu, tapi kalau yang kalian inginkan adalah hartaku silahkan ambil semua, tapi ijinkan aku untuk berjalan terus sampai ke Madinah.”

MasyaAllah.. coba misalkan aja, untuk mau nutor kek gini “ambil aja nih tas/laptopku yang penting aku bisa nutor”

Mungkin kalau aku bareng adek2 tutor siapa tau adek tutor yang belum semangat bacaan al –quran nya jadi semangat untuk belajar lebih, yang sholatnya jarang2 jadi mau sholat terus, dll. Nah ini perlu kita sadari bahwa kita masih belum rela kehilangan harta di dunia untuk menukar apa yang kita punya di dunia untuk ditukarkan dengan harta yang di akhirat.

Jadi Ma’rifatullah dan Ma’rifaturrasul sangat penting untuk kita lakukan, tanda kita jauh dari Allah adl kita tidak gercep untuk beribadah, dan tanda jauhnya kita dengan rasulullah adalah kita sangat jauh mengetahui sifat2 para sahabat, bagaimana rasulullah melakukan segala aktivitasnya bahkan diamnya.  Karena dengan mengetahui semua ini  hidup kita akan beres. Semua sudah ada dasarnya.

Semua ini kita lakukan tidak lain tujuannya, untuk Ikhlas dan dengan syarat  I’tiba terhadap rasul (mengikuti cara-cara Rasulullah SAW).

Konsep pemahaman :
Jika kita mengenal diri maka kita akan mengenal Allah. Jika kita mengenal Allah, maka kita akan kenal diri kita sendiri seperti menjadi kita menjadi khalifah, kita adalah seorang hamba, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *