Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Bertafakur kepada Allah SWT melalui Covid-19 oleh Srimulyani

oleh Srimulyani (Nim. 19201241010) – Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Sejak Desember 2019 lalu, virus corona atau Covid-19 menjadi monster bagi kita semua. Tak hanya di satu negara, tetapi wabah ini menyerang masyarakat diseluruh dunia tanpa terkecuali. Sebegitu dahsyatnya virus ini sehingga sampai menggemparkan dunia. Ada yang berpendapat virus ini berasal dari hewan yang berada di pasar Wuhan, China. Ada juga yang berpendapat bahwa virus ini memang sengaja dibuat untuk mengurangi populasi manusia dibumi. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat mengenai virus Corona atau Covid-19 ini. Terlepas dari semua itu, sebagai orang yang beriman, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa apa yang terjadi di bumi dan di langit merupakan kehendak Allah SWT. Jika dibayangkan adalah hal yang berada diluar nalar, bagaimana mungkin sesuatu yang tidak kelihatan (virus corona) bisa menggemparkan seluruh dunia kecuali karena kuasa Allah SWT. Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 107 yang berbunyi:ِِ

ضْرَْلْاَوِتاَواَمَّسلاُكْلُمُهَل

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi”.

Bahkan apa yang terjadi sekarang, termasuk wabah corona sudah ditulis dan ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya :

“Allah telah mentakdirkan seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi” [H.R Ahmad 2/169, dan lafadznya, dan Muslim 2653].

Sesungguhnya bala’ atau musibah itu menimpa semua orang, baik mukmin, ataupun tidak, baik kecil, besar, tua, dan muda dan semuanya ikut merasakan bala’ atau musibah tersebut. Meskipun terkadang kita tidak tau apa-apa namun musibah tersebut ikut menimpa kita. Yang harus kita yakini dan pahami adalah bala’ atau musibah tersebut datang dari Allah SWT dan menjadi azab bagi orang kafir namun menjadi rahmat bagi orang mukmin. Mengapa menjadi rahmat? Karena sebab bala’ atau musibah itulah kita memiliki kesempatan untuk menambahkan ketakwaan kita dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Maka dari itu, sudah semestinya virus Corona atau Covid-19 ini pun menjadi sarana untuk mendekatkan diri kita kembali kepada Allah SWT, karena kita tidak tau barangkali kita adalah salah satu penyebab diturunkannya wabah tersebut karena dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Jika kita kembali menilik sejarah, pada masa khalifah Umar Bin Khattab juga terjadi wabah yang hampir mirip dengan virus corona atau covid-19. Wabah tersebut bernama Tha’un. Terjadi sekitar akhir tahun 17 Hijriyah di Amawas dan menyebar cepat di Yordania. Wabah ini pun sangat ganas karena menyebabkan kematian. Bahkan ada beberapa sahabat yang mati syahid akibat wabah tersebut. Diantaranya adalah Ubaidah Bin Jaroh, Mu’adz Bin Jabal, Yazid Bin Abi Sufyan, Haris Bin Hisyam dan sahabat lainnya.

Dari Abdurrahman Bin Auf , Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit melanda suatu negeri sedang kalian didalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut” [H.R Bukhari dan Muslim].

Hadist inilah yang dijadikan pegangang Umar Bin Khattab, ketikamendengar wabah Tha’un tersebut sedang Umar akan melakukan perjalanan ke kota Syam. Akhirnya, Umar mengurungkan niatnya dan kembali ke Madinah. Pada saat Syam dipimpin oleh Amr Bin Ash, wabah penyakit Tha’un tersebut mereda. Metode yang digunakan oleh AmrBin Ash adalah memisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat sehingga tidak terjadi penularan. Wabah penyakit di Syam tersebut perlahan-lahan hilang. Jika kita belajar dari sejarah, maka metode lockdownatau karantina yang diterapkan di Indonesia sudah tepat. Kita berharap metode tersebut dapat menghambat penularan Covid-19, sehingga virus tersebut akan cepat hilang.

Program lockdown yang diterapkan pemerintah tentunya membawa konsekuensi bagi masyarakat dalam berbagai bidang. Tak terkecuali dalam halibadah, terlebih sekarang adalah bulan Ramadhan. Dimana ketika Ramadhan seharusnya kita memperbanyak melakukan aktivitas di masjid untuk beribadah. Tetapi ibadah sholat tarawih, buka bersama, i’tikaf dan sebagainya terpaksa harus kita lakukan di rumah masing-masing. Yang menjadi kebingungan adalah, bagaimana untuk sholat Id? Sebenarnya sholat Id adalah sholat sunnah. Namun, sangat rugi sekali jika tidak kita laksanakan. Lalu bagaimana melaksanakan sholat Id dengan kondisi seperti sekarang? Berdasarkan ceramah dari Ustadz Abdul Somad, Lc., MA. bahwa sholat idul fitri tetap bisa dilaksanakan dirumah. Bisa dilakukan sendiri. Apabila di keluarga tersebut ada beberapa anggota maka tetap sah jika dilakukan secara berjamaah. Yaitu minimal 4 orang dan satu sebagai imam. Dan tetap bisa melakukan khutbah, karena rukun khotbah hanya 5 yaitu berdiri, takbir, membaca hamdallah, membaca sholawat, membaca ayat Al-Qur’an, dan berwasiat takwa kemudian duduk sebentar lalu khotbah yang kedua yang dimulai dari hamdallah, membaca sholawat, wasiat takwa dan yang terakhir adalah berdo’a. Mengenai khutbah 2 kali ini, ada sebuah hadits yang menerangkan yaitu yang artinya:

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan berdiri, lalu duduk, kemudian bangun dan berkhotbah dengan berdiri lagi. Maka barangsiapa memberi tahu engkau bahwa beliau berkhutbah dengan duduk, maka ia telah bohong.(H.R Muslim)

Sehingga sholat idul fitri tetap bisa dilaksanakandan tidak ada alasan untuk tidakmelaksanakan sholat idul fitri.

Lalu bagaimana pengurusan jenazah yang terpapar Covid-19? Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa mengenai pengurusan jenazah muslim yang terpapar Covid-19. Tulis pengaturan jenazah terinfeksi Covid-19 dalam Fatwa MUI nomor 18 tahun 2020 yang dikirim oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr. HM. Asrorun Niam Sholeh, MA. menyatakan bahwa :

“ Umat Islam yang wafat karena wabah Covid-19 dalam pandangan syara’ termasuk kategori syahid akhirat, dan hak-hak jenazahnya wajib dipenuhi yaitu dimandikan, dikafani, di sholati, dan dikuburkan yang pelaksanaannya wajib menjaga keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan-ketentuan protocol medis”. (Jumat, 27/03/2020).

Dengan fatwa tersebut diharapkan pasien muslim yang wafat terkena Covid-19 tetap dipenuhi hak-haknya dan petugas pun tetap selamat dalam menjalankan tugasnya.

Menghadapi wabah tersebut, tentunya kaum muda pun memiliki peran yang sangat penting. Dimana kaum muda dapat memberikan kontribusi pencegahan penularan Covid-19 meskihanya dari rumah. Pemuda yang terkenal kreatif, tanggap dan gesit mampu memafaatkan media dan teknologi untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi Covid-19. Banyak saya temukan para pemuda melakukan galang dana melalui media sosial, membuatkonten-konten tentang pencegahan Covid-19 dan masih banyak lagi yang tentunya sangat bermanfaat bagi kita semua. Selain itu, banyak juga relawan-relawan muda yang siap turun ke lapangan untuk melakukan penyemprotan, menunggu posko penyemprotan, pembagian sembako dan lain sebagainya yang tanpa mengharap imbalan apapun. Dan mereka itulah adalah pemuda-pemuda dambaan umat seperti yang telah dijelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 13, yang berbunyi:ِِ

قـَحْلاِبْمُهَاَبَنَكْيَلَعُّصُقَنُنْحَنِِۗاٌةَيْتِفْمُهَّنِاىًدُهْمُهنْدِزَوْمِهِبَرِباْوُنَمِۗ

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka,”.

Banyak hal yang berubah semenjak ada Covid-19 ini. Ada banyak sekali pelajaran yang diberika oleh Covid-19 ini. Yang harus kita lakukan adalah selalu berprasangka baik kepada Allah SWT dan kita selalu berusaha untuk mengikuti arahan pemerintah agar Covis-19 ini dapat segera berakhir dan keadaan dapat berjalan normal seperti biasanya.

Sumber Referensi

Ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi

Indriya. 2020. Konsep Tafakur dalam Al-Qur’an dalam Menyikapi Coronavirus Covid-19. SALAM. 7 (3): 211-216.

https://m.detik.com/news/berita/d-4956009/saat-khalifah-umar-bin-khattab-berdebat-soal-wabah-penyakit-dan-takdir

https://m.detik.com/news/berita/d-4955989/fatwa-mui-wafat-karena-corona-syahid-akhirat-begini-cara-urus-jenazahny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *