Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Corona Virus (Covid-19) di Indonesia oleh Rida Rarasati

Oleh Rida Rarasati (NIM: 19405244028) Pendidikan Geografi – Fakultas Ilmu Sosial

Ramadhan 1441 H ini dijalani umat Islam di seluruh dunia dengan suasana berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara, tak terkecuali negara-negara Muslim membuat tatanan kehidupan baru yang harus dijalani seluruh manusia khususnya umat muslim. Bahkan masjid paling agung dan paling suci bagi umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pun sempat ditutup untuk umum guna mencegah persebaran Corona. Penutupan masjid juga dilakukan di berbagai masjid di Indonesia, sebagai contoh Masjid Istiqlal di Jakarta yang melakukan penutupan selama bulan ramadhan 1441 H.Virus corona adalah virus yang menyebabkan flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernapasan. WHO memberi nama virus tersebut sebagai Coronavirus disease 2019 (COVID-2019) (WHO, 2020).

Pada mulanya transmisi virus ini belum dapat ditentukan apakah dapat melalui antara manusia-manusia. Semakin lama jumlah kasus semakin bertambah. Virus ini bermula di Wuhan, China pada 31 desember 2019. Virus yang merupakan virus RNA strain tunggal positif ini menginfeksi saluran pernapasan. Penegakan diagnostik dimulai dari gejala umum berupa demam, batuk dan sulit bernapas hingga adanya kontak erat dengan negara yang sudah terinfeksi. Pengambilan swab tenggorokan dan saluran napas merupakan penegakan diagnosis coronavirus disease. Penatalaksaan berupa isolasi harus dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih masif (Yuliana, 2020).

Virus ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat yang membuat tatanah kehidupan masyarakat menjadi berubah total. Aturan work from home, physical distancing menjadi aturan yang gencar diserukan terhadap masyarakat demi mengurangi dan memutus penyebaran virus tersebut.Dalam mempercepat upaya pemutusan penyebaran virus, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) mengatur bahwa Menteri Kesehatan menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar berdasarkan usul gubernur/bupati/walikota atau Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dengan kriteria yang ditetapkan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut, Pembatasan Sosial Berskala Besar paling sedikit meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Dalam hal Pembatasan Sosial Berskala Besar telah ditetapkan oleh Menteri, Pemerintah Daerah wajib melaksanakan dan memperhatikan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Permenkes RI Nomor9 Tahun 2020).

MUI mengeluarkan fatwa Nomor14 tahun 2020 yang Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Salah satu isi fatwa adalah mengatur tentang ibadah shalat Jumat dan mengenai ketentuan yang harus dilakukan terhadap jenazah pasien pengidap virus corona atau Covid-19. Selain itu, MUI juga menegaskan fatwa haram atas tindakan yang menimbulkan kepanikan, memborong, dan menimbun kebutuhan pokok berserta masker(Mashabi,2020).

Setiap permasalahan pastilah menimbulkan dua golongan yang ekstrem dalam bersikap, tak terkecuali saat merebaknya virius corona saat ini. Ada pihak yang berlebihan dalam mengantisipasi sehingga menyebakan kepanikan terhadap pihak lain. Namun ada juga yang bersikap meremehkan hinggan berpeluang menimbulkan bahaya bagi yang lain. Kepanikan hanya akan menimbulkan kerugian besar sehingga layaknya harus dihindari. Tetapi tindakan meremehkan pun tidak hanya mendatangkan kerugian namun juga potensi kematian bagi diri sendiri maupun orang lain. Beberapa orang bahkan menunjukkan keberanian di muka publik bahwa merekatak takut virus corona sebab yang ditakuti hanyalah Allah. Dari sudut pandang akidah hal tersebut benar sebab tak ada yang dapat meyebabkan orang menjadi dakit kecuali Allah. Secara akidah hal tersebut harus diyakini bahwa Allah yang menentukan sakit tidaknya seseorang, Namun bukan berarti akidah sebagai satu-satunya persoalan. Masih ada urusan fiqih yang perlu diperhatikan, sebagai contoh usaha apa saja yang dapat berdampak positif dan negatif. Usaha positif inilah yang harus dilakukan dan sebaliknya usaha negatif yang harus dihindari.

Usaha positif yang telah diajarkan oleh Rasulullah dalam menangkal suatu penyebaran wabah antara lain:

1.Menjaga higienitas makanan

Memastikan makanan dan minuman selalu dalam kondisi higienis adalah langkah antisipasi yang penting untuk menangkal penyakit atau wabah dan merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim. Makanan hendaknya halal dan thayib. Inilah suatu langkah yang harus dilakukan muslim setiap hari Rasulullah menginstruksikan dalam sabdanya:

عَنْعَاَِرِعَنَِعَبَدْعَهِعارَعَمَعَتُعاََُُعَهِصهلىعَهِعَلَيلْعسهلَُعَاَُلُغُطُّاعإرَََغغَََََُُعإرلاءغعهإَنَّفََّعَسنهءغعَسلَيعَاَزَنُرييََّعَإرَِعاعطاَتُرََنَِعإعيَيعَلَيلْعَإرَُّاعََُعإرلَُعيَيعَلَيلْعَإرَََعهاَاعازَعَليََّعَنَْعلََعَإرَُِغ

“Dari Jabir bin ‘Abdullah ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ke tempat-tempat air yang tidak tertutup”(HR.Muslim).

2.Mengisolasi area wabah

غََاعَسَعَعَتُعَإَُْرهُّرَِعأََضَِعلَّردَُلََُباغََاَعقََعأََضَِعَسَعَََُريَِعلَّغََُِاَُاعلَنَْغ

“Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut” (HR. al-Bukhari).

Hukum isolasiberlaku bagi semua wabah, termasuk Corona. Isolasi ini dapat mencegah penyebaran wabah ke daerah lebih luas, namun di satu sisi akan menyebabkan orang yang berada di daerah wabah akan ikut terdampak wabah juga.Dampak dari isolasi yaitu kegiatan ekonomi akan terganggu namun demikian hal tersebut sebagai salah satu ikhtiar untuk mengurangi dan memutus rantai virus corona.Dalam hal ini kemudian Rasulullah bersabda bahwa wabah tersebut akan menjadi siksaan bagi orang yang tidak beriman tetapi akan menjadi rahmat Allah bagi mereka yang beriman, bahkan Muslim yang terkena wabah dan bersabar akan mendapatkan pahala mati syahid.

Dalam (Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020) Allah telah berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 195 yang artinya “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah:195)

Dengan demikian, sangat tidak tepat apabila ada seorang Muslim yang meremehkan peredaran wabah atau justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan instruksi Rasulullah di atas, misalnya dengan menampakkan keberanianmenolak tindakan isolasi wabah, tidak menaati aturan pemerintah, melakukan perjalanan mudik yang berpotensi memperluar penyebaran wabah, dan lain-lain. Tindakan ini bukanlah sebuah keberanian namun justru sebuah kecerobohan dan keteledoran yang dapat memperparah situasi dan kondisi yang ada. Hal tersebut dikarenakan segala tindakan yang mandatangkan potensi bahaya, secara fiqih tergolong sebagai tindakan yang haram, meskipun berdasarkan pada aqidah yang benar.

Meskipun tak ada penyakit yang dapat menular dengan sendirinya tanpa kontrol dari Allah, namun di waktu yang sama Rasulullah juga menginstruksikan agaryang sakit tidak berbaur dengan yang sehat supaya tak terjadi penularan. Beliau bersabda:

عارََُُِعستلُعَنَِعَبَدْعَنتَمهاغعَمَعَتُرُِعراَُاَدعَنْعافَدهنغصهلىعَهِعَلَيلْعسهلَُعارَعاعَاغََدََُعأَاَتَتَغصلْعاََُْتَغ

“Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat”(HR. al-Bukhari).

Banyak anjuran dalam pencegahan Covid-19 tercermin dalam ibadah puasapada tahun ini. Kita diminta untuk menahan diri untuk keluar rumah kecuali untuk urusan yang sangat mendesak. Selain itu, juga perlu menahan diri untukmengurangi konsumsi di luar hal-hal yang diperlukan karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi akan berakhir. Bersikap hidup bersih dan sehat karena puasa juga mengajarkan pola hidup sehat.

Adanya Covid-19 juga telah mengingatkan kembali pentingnya kerja sama. Sesungguhnya manusia adalah makhluk sosialyang tidak dapat hidiup sendiri tanpa adanya atau bantuan dari orang lain. Individualisme sebagai salah satu tindakan manusiayangbelakangan ini menjadi budaya masyarakat modernsehingga manusia bertindak semau sendiri demi kepentingan dirinya sendiritanpa memperdulikan orang lain. Oleh karena itu, dalammomen ramadhan tahun ini dan dalam situasi seperti ini, para muzakkiberkewajiban segera membayarkan zakat, dan menambahkannya dengan infak serta sedekah. Saat ini banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Bekerja sama akan menjadikan beban yang ditanggung mereka yang merasakan dampak secara langsung akibat corona menjasi lebih ringanRamadhan ini, saatnya kita melakukan introspeksi dirisecara lebih mendalam, lebih komprehensif, dan lebih substantif terhadap perjalanan kita sebagai pribadi atau terhadap perkembangan peradaban manusia yang selama ini dimotivasi oleh hedonisme dan konsumerisme.

Saatnya kita kembali mencari jati diri kemanusiaan kita yang mungkin telah terlupakan karena kesibukan pekerjaan yang sedemikian menuntut atau karena hal-hal yang sesungguhnya tak penting seperti gim dan media sosial yang kini menjadi keseharian kita. Tinggal di rumah sebenarnya merupakan kesempatan langka yang sebelumnya selalu kita dambakandan dapat berkumpul dengan orang terkasih dalam menjalani ibadah di bulan suci. Inilah saat untuk merefleksikan hubungan kita dengan Allahdengan sesama manusia dan tentunya dengan alam.

DAFTAR PUSTAKA

WHO. (2020). WHO Director-General’sعremarksعatعtheعmediabriefing on 2019-nCov.WHO, 11 Februari2020.

Mashabi, S. 2020.MuI Rilis Fatwa Terkait Ibadah Saat Wabah Corona, Ini Isi Lengkapnya. Kompas, 17 Maret 2020.

MUI. (2020). Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid.

Permenkes RI. (2020).Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Yuliana. (2020). Corona Virus Disease (Covid-19): Tinjauan Literatur. Bandar Lampung: Wellness and Healthy Magazine. Vol.2, No. 1:187-192

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *