Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Memaknai Wabah Virus Corona dalam Islam oleh Olga Salsabila Nurfatma Nugraha

Oleh Olga Salsabila Nurfatma Nugraha (Nim. 19811334024) Jurusan Pendidikan Administrasi

Memaknai Wabah Virus Corona Dalam Islam

Pada pertengahan bulan Maret kemaren Indonesia digegerkan dengan wabah virus corona. Virus corona ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada bulan Desember 2019. Karena penyebarannya sangatlah cepat sehingga sekarang sudah menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia, salah satunya Indonesia. Awal mula virus ini masuk ke Indonesia yaitu pada akhir Februari 2020 ada WNA yang awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya terjangkit virus corona. WNA tersebut melakukan kontak langsung dengan WNI dan pada saat WNA tersebut kembali ke asalnya, disanalah WNA tersebut terindikasi Virus corona karena menunjukkan gejala dari infeksi virus corona. Mendengar berita tersebut, WNI yang telah melakukan kontak langsung dengan WNA tersebut langsung memeriksakan dirinya dan menjalani isolasi di rumah sakit rujukan. Sebelumnya Indonesia sendiri sudah bersiap mengenai penyebaran virus corona ini dan telah menunjuk beberapa rumah sakit sebagai rujukan pasien Covid-19.

Sampai sekarang, pasien yang terjangkit virus corona di Indonesia sudah lebih dari 16.000 orang itupun bisa bertambah sewaktu-waktu. Diluar sana banyak cerita simpang-siur mengenai asal mula dari virus corona sendiri, ada yang menyebutkan bahwa virus corona ini adalah senjata biologis China yang bocor, dan ada juga yang mengaitkan virus ini dengan konspirasi wabah virus sebelumnya. Tapi ingat, kita sebagai umat Islam harus bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Ingat juga bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kesanggupan hambanya. Dalam Q.S Al Baqarah ayat 286 Allah berfirman

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seorang melaikan sesuai dengan kesanggupannya”

Dengan  diberi cobaan ini, bisa jadi Allah ingin memberi peringatan kepada hamba-Nya. Mungkin kita sebagai hamba-Nya kurang menyadari keberadaaan Allah SWT. Oleh karena itu kita harus percaya bahwa wabah virus corona ini terjadi atas kehendak Allah tanpa menyalahkan pihak-pihak lain. Dengan adanya wabah virus corona ini, kita yang dianjurkan untuk dirumah saja bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk bisa lebih dekat dengan Allah SWT. Yang dulu saat kerja sering telat sholat 5 waktunya, saat dirumah kita bisa memaksimalkan sholat 5 waktu dengan berjamaah bersama keluarga. Yang dulu sering tidak sempat membaca Alqur’an, sekarang jadi punya waktu lebih untuk mengkhatamkan Alqur’an, dan masih banyak lagi amalan dan ibadah yang bisa kita lakukan saat dirumah saja.

Selain wabah virus corona saat ini, wabah penyakit juga perrnah terjadi pada zaman Rasullah. Wabah penyakit tersebut yaitu penyakit kusta atau lepra yang dapat menular dengan cepat dan juga dapat mnyebabkan kematian. Dalam menghadapi wabah ini, Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat untuk tidak memasuki wilayah yang tengah terjangkit, dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk meninggalkan tempat tersebut. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَاا “Apabila kamu mendengar wabah menyakit disuatu negara, maka janganlah kamu datangi negara itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negara tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negara itu larena hendak melarikan diri darinya” (HR. Muslim).

Rasulullah juga memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra tersebut. Seperti dalam hadis

اَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

“Jangan kamu terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta” (HR. Bukhari).

Dari cerita di zaman Rasulullah, kita dapat mengambil banyak hikmah yang bisa kita terapkan di kondisi saat ini, seperti kita harus tetap dirumah saja tidak usah pergi-pergi jika tidak mendesak dan apabila kita keluar rumah harus melakukan Social Distancing atau jaga jarak. Pemerintah juga sudah menerapkan kebijakan Stay at Home dan Work from Home.

Kita sebagai pemuda muslim harus tenang dan tidak boleh sembarangan dalam menghadapi wabah virus corona ini. Kita tidak boleh menyepelekan karena itu akan berdampak bukan hanyak kepada kita sendiri, tapi akan berdampak kepada banyak orang. Dalam mengahadapi virus corona, yang bisa kita lakukan seperti, menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan, menjaga adab Islam (adab makan, minum, bersin, batuk, hingga wudhu sesuai dengan ketentuan tata cara yang benar dan sempurna, tidak panik dan menghindari berita palsu (Hoaks), mematuhi imbauan beribadah, menyisihkan sebagian uangnya untuk bersedekah dan yang terakhir yaitu mendekatkan diri kepada Allah serta berdoa agar segera dihindarkah dari wabah virus corona. Dalam melakukan hal tersebut kita harus bersunggu-sungguh dalam melakukan agar nantinya diberi kemudahan sama Allah, sesuai dengan QS Al Ankabut ayat 69

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Untuk menghadapi wabah virus corona, pemerinah sudah banyak mengeluarkan kebijakan, salah satunya yaitu meniadakan kegiatan di tempat ibadah. Maksudnya yaitu kegiatan ibadah yang biasanya dilakukan berjamaah dianjurkan untuk dilakukan dirumah masing-masing. Banyak masjid yang meniadakan sholat berjamaah dan menganjurkan jamaahnya untuk sholat di rumah masing-masing. Hal ini bertujuan untuk memutus tali penyebaran dari virus corona. Namun dengan begitu, kita harus lebih giat lagi beribadah walaupun itu hanya dirumah saja. Selain kebijakan tentang beribadah, pemerintah juga sudah mengeluarkan kebijakan tentang perawatan jenazah yang terpapar virus corona. Dalam merawat jenazah yang terpapar virus corona harus sesuai dengan SOP yang berlaku, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Proses perawatan jenazah dilakukan oleh petugas khusus. Jika jenazahnya seorang muslim maka dimandikan sesuai dengan protokol yang berlaku, setelah dimandikan lalu dikafani, kain kafannya pun juga harus sesuai syariat. Namun untuk jenazah yang terpapar corona ini setelah dikafani maka akan dibungkus dengan plastik terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam peti. Hal ini bertujuan untuk menghindari dari penyebaran virus. Proses pemakamannya pun juga sesuai syariat namun dilakukan oleh petugas khusus dan tidak boleh dihadiri oleh keluar. Kebijakan tentang beribadah dan perawatan jenezah tersebut berdasarkan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 yang dirilis pada Senin 16 Maret 2020.

REFERENSI

https://www.tagar.id/pandemi-corona-dan-kisah-wabah-penyakit-zaman-nabi

https://republika.co.id/berita/q7gafw384/5-peran-aktif-ummat-islam-batasi-penyebaran-covid19

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51867023

https://tafsirweb.com/7295-quran-surat-al-ankabut-ayat-69.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *