Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Peningkatan Kesadaran Diri dalam Menghadapi Virus Corona Melalui Perspektif Islam oleh Aufar Lazawardi

Oleh Aufar Lazawardi (NIM 19808144014) Jurusan S1 Manajemen E19

Peningkatan Kesadaran diri Dalam Menghadapi Virus Corona Melalui Prespektif Islam

Kesehatan merupakan kondisi terbebas dari penyakit dan salah satu kenikmatan mahal dibandingkan dengan lainnya. Raga dan jiwa manusia bagaikan dua sisi yang berbeda ibarat dalam satu keping mata uang. Keduanya ada bersamaan dan saling berinteraksi serta saling mempengaruhi. Badan yang sehat memiliki kontribusi untuk memperoleh jiwa yang sehat. Begitu juga sebaliknya jiwa yang sehat juga memiliki kontribusi yang signifikan untuk menjadikan tubuh sehat.

Dewasa ini, dunia sedang dihebohkan dengan pandemi Covid-19 yang merupakan salah satu virus mematikan. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virul lain pada umumnya seperti percikan air liur dari batuk dan bersin, menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi, menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona serta melalui tinja atau feses (halodoc,2020). Tak ada perawatan khusus untuk mengatasi infeksi virus corona. Namun, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala infeksi virus corona seperti cuci tangan menggunaka sabun, minum obat sesuai resep dokter, perbanyak istirahat, perbanyak asupan cairan tubuh, dan olahraga teratur (halodoc, 2020).

Penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 dan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2020 dalam menangani penularan virus corona memberikan kebijakan untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (Kompas, 2020). Melalui sudut pandang islam atas adanya kebijakan tersebut memberikan hikmah terhadap umat manusia untuk menjaga kebersihan seperti halnya dalam hadits dari Abu Hurairah disenutkan bahwa:

تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

“Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah ta’ala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.”

Selain hikmah yang dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari ada hal lain yang perlu kita laksanakan yaitu hikmah untuk melakukan kegiatan olahraga dalam agar tetap segar. Dalam Al-Qur’an surat An-Naba’ ayat 9 diperintahkan untuk istirahat yang cukup dalam menjaga kesehatan.

Pada zaman nabi, terdapat penyakit seperti halnya virus corona dan terjadi selama bertahun-tahun sehingga menyebabkan kekacauan dalam beraktivitas. Masa khalifah ke dua, Umar bin Khatabb terhadi serangan wabah yang paling berat dalam sejarah umat islam. Saat itu, Umar bin Khattab membatalkan niatnya masuk ke daerah Syam yang terserang wabah. Keputusan itu diambil setelah mengadakan dialog dan musyawarah bersama panglima pasukannya, Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Pusat wabah itu ada di kampung kecil bernama Amawas. Dalam sejarah Islam, nama tempat wabah penyakit era Umar bin Khattab dikenal dengan Thaun Amawas atau wabah Amawas. Kampung itu terletak antara daerah Ramallah dengan Baitul Maqdis. Wabah itu menewaskan puluhan ribu orang, termasuk para sahabat Rasulullah SAW. Gusrizal mengatakan banyak sahabat Rasulullah SAW yang turut meninggal dalam wabah itu. Di antaranya, Muaz bin Jabal, Suhail bin Amr, Syurahbil bin Hasanah, Abu Jandal bin Suhail dan puluhan (Pola Hidup Sehat dalam Perspektif Al Qur’an, 2015) (Majelis Ulama Indonesia, 2020) sahabat lainnya. Termasuk dua Gubernur Syam juga meninggal berturut-turut. Pertama Abu Ubaidah bin Jarrah yang diminta keluar dari Syam oleh Umar, namun dia tidak mau pergi menyelamatkan diri, lalu meninggal. Kemudian digantikan oleh Muaz bin Jabal sebagai gubernur dan ia juga meninggal terkena wabah. Saat menjadi gubernur Syam, Amr bin Ash mencoba melakukan diagnosa terhadap penyebab dan penyebaran wabah. Amr mengatakan bahwa wabah seperti api yang berkobar dan selama masih ada kayu bakar, dia akan terus menyala. Selama masih ada orang yang sehat, ia akan terus menyebar. Dia melihat solusi menghentikan wabah adalah dengan menyuruh penduduk sehat pergi menyingkir ke bukit-bukit. Kebijakan itu dinamakan isolasi atau lockdown saat ini (Langgam, 2020).

Dari permasalahan di atas, kita bisa mempelajari bahwa pada saat khalifah Umar bin Khattab melawan wabah penyakit menular melakukan ikhtiar dengan cara isolasi tempat agar tidak menyebar ke daerah lain. Bukan hanya tawakal kepada Allah, tetapi kita juga perlu ikhtiar untuk mengatasi penularan penyakit. Peran pemuda muslim dalam menghadapi virus corona ini dapat digalakkan melalui menjaga kebersihan jasmani dan tempat ibadah yang merupakan syarat mutlak pertama jika melakukan ibadah shalat (Nur Wahyudi, 2015). Melakukan cuci tangan menggunakan sabun sehingga terhindar dari adanya bakteri, hal ini juga terdapat dalam perintah bersuci pada Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222 yaitu:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (Al-Baqarah ayat 222).

Kita sebagai pemuda yang sudah menggalakan budaya hidup bersih dan sehat tentunya akan meminimalisir penyebaran virus corona pada suatu lingkungan sehingga akan segera usai wabah yang dialami. Dengan demikian kita akan selalu diberikan kemudahan dalam melakukan ibadah dan akan segera melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Adapun dalam beribadah ketika wabah melanda mengenai sholat maka kita dianjurkan untuk beribadah di rumah sesuai dengan fatwa MUI berdasarkan HR Al Bukhari bahwa:

عن عائشة أنَّهَا سَأَلَتْ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فأخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنَّه كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ علَى مَن يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فليسَ مِن عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أنَّه لَنْ يُصِيبَهُ إلَّا ما كَتَبَ اللَّهُ له، إلَّا كانَ له مِثْلُ أجْرِ الشَّهِيدِ التخريج : أخرجه البخاري (3474)، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (7527)، وأحمد (26139)

Dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari).

Dengan demikian, kita sebagai umat muslim tentunya bisa melakukan ibadah di rumah tanpa mendekati bahaya pada diri sendiri. Selain itu adanya wabah virus corona kita tentunya sadar akan menjaga kesehatan dan pola makan sesuai dengan aturan Islam sehingga dapat terhindar dari paparan virus.

DAFTAR PUSTAKA

Halodoc. (2020, April 30). Retrieved from http://halodoc.com/kesehatan/coronavirus

Kompas.com. (2020, April 26). Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2020/04/26/19130971/kebijakan-presiden-terkait-penanganan-covid-19-disebut-bisa-berubah

langgam.id. (2020, March 23). Retrieved from https://langgam.id/mengenang-cara-umar-bin-khattab-melawan-wabah-penyakit-menular/

Majelis Ulama Indonesia. (2020, Maret 16). Retrieved from file:///C:/Users/HP/Downloads/Documents/Fatwa-tentang-Penyelanggaran-Ibadah-Dalam-siatuasi-Wabah-COVID-19.pdf

Pola Hidup Sehat dalam Perspektif Al Qur’an. (2015). UIN Walisongo, 61-65.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *