HASIL UAS BACA AL QUR’AN (BAQ) UNY SEMESTER GENAP TUTORIAL PAI UNY 2020

KBMT Achievement Part 3 – By Tim Riset Tutorial PAI UNY

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”
(H.R. Bukhari Muslim)

Hasil Bacaan Al Quran Tutorial PAI UNY Selama 1 Semester

Grafik Kenaikan Jilid BAQ 5 Fakultas

Dari 2.921 Mahasiswa Baru peserta Tutorial PAI UNY 2020, terdapat 880 Mahasiswa dinyatakan NAIK JILID pada Tes Bacaan Al Qur’an setelah mengikuti kelas Tutorial PAI selama 1 semester. Artinya sebanyak 30% Mahasiswa Baru yang mengikuti kelas Tutorial PAI pada masa studi Semester Genap 2019/2020 menunjukkan peningkatan signifikan melalui tes dan verifikasi nilai oleh Tim P2BQ Tutorial PAI UNY. Hal ini disebabkan oleh kinerja Tutor Tutorial PAI UNY serta tingginya keseriusan peserta Tutorial UNY selama melaksanakan program Tutorial PAI UNY. Seluruh Peserta Tutorial PAI UNY 2020 disarankan untuk dapat mengikuti Tutorial Lanjut sebagai upaya peningkatan kualitas BAQ yang lebih baik lagi kedepannya.

Semoga semua pencapaian ini menjadi amal jariyyah bagi:

Jajaran Pimpinan Universitas Negeri Yogyakarta

Tim Dosen PAI UNY

Tim Tutorial PAI UNY

Mahasiswa UNY

Aamiin Allahumma Aamiin

Kritik, Saran, dan Masukan:

tpaislamuny@gmail.com

STANDARDISASI BACAAN AL QUR’AN (BAQ) TUTORIAL PAI UNY

KBMT Achievement Part 2 – By Tim Riset Tutorial PAI UNY

JILID 1 : MAKHROJ DAN SIFAT

Indikator:

  1. Tidak dapat membaca Al-Quran atau terbata-bata
  2. Sering salah atau tertukar dalam melantunkan huruf hijaiyah (makhorijul huruf) dan sifatnya.

JILID 2 : HURUF BERSAMBUNG

Indikator:

  1. Bacaan antar huruf terputus-putus
  2. Salah dalam pelantunan harokat (fathah, kasroh, dhummah dan tanwin) atau tertukar.

JILID 3 : BACAAN PANJANG DAN PENDEK

Indikator:

  1. Pelantunan bacaan panjang dan bacaan pendek masih salah (mad thobi’i)
  2. Bacaan panjang dan pendek tidak konsisten.

JILID 4 : TANDA SUKUN, TASYDID, DAN BACAAN MAD

Indikator:

  1. Kurang tepat dalam pelantunan sukun dan tasydid
  2. Suara sering memantul (tawalud)
  3. Belum mengetahui bacaan mad (selain mad thobi’i).

JILID 5 : NUN MATI DAN TANWIN, WAQOFDAN WASHOL

Indikator:

  1. Kesalahan dalam pelantunan hukum nun sukun dan tanwin (idhghom bighunnah, idhghom bilaghunnah, iqlab, idzhar, dan ikhfa’ )
  2. Waqof dan washol tidak pada tempatnya

JILID 6 : BACAAN QOLQOLAH, MIM MATI, HUKUM RO’, LAM JALALAH, DAN GHORIB

Indikator:

  1. Bacaan qol-qolah tidak memantul atau tidak sesuai
  2. Pelantunan hukum mim, hukum ro’, dan lam jalalah yang kurang tepat
  3. Bacaan ghorib belum benar.

JILID 7 : TARTIL

  1. Dapat membaca Al-quran dengan benar dan dengan tenang
  2. Tidak terdapat kesalahan dalam ilmu tajwid dan bacaan ghorib

Wawancara dan BAQ Susulan Mahasiswa Baru Muslim UNY 2020 Jalur SNMPTN

Assalamu’alaikum gaes! Ada pengumuman nih 😉

Teruntuk seluruh Mahasiswa Baru UNY 2020 jalur SNMPTN yang belum melaksanakan Tes Baca Al Qur’an (BAQ) dan Wawancara Tutorial PAI via daring untuk mengikuti kegiatan tsb InsyaAllah akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Sabtu, 18 Juli 2020
Waktu : 08.00 – 15.00 WIB
Tempat : Via daring (Video Call WhatssApp)

Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Cara Remaja Muslim dalam Membantu Negara Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 oleh Tri Wulan Mardikawati

oleh Tri Wulan Mardikawati

NIM 19601244051

Jurusan : Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi

Corona virus adalah penyakit saluran pernafasan yang merupakan satu keluarga dengan virus penyebab SARS dan MERS. Gejala awalnya adalah demam, batuk keringgangguan pernafasan, sakit tenggorokan, letih lesugejala ini pada awalnya hanya seperti orang masuk angin pada umumnya. Namun gejala yang signifikan biasanya terlihat pada hari ke 9-14. Penyebaran virus ii tergolong cepat penyebarannya adalah dengan cairan yang keluar dari tubuh seseorang yang telah tertular oleh virus ini dan biasanya menempel pada tangan atau benda di sekitar kita. Tanpa sadar kita memegang bagian bagian mata, mulut, telinga dan masuk lewat perantara itu.

QS Ibrahim ayat 7

  • وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Dengan adanya pandemi seperti ini, kita tidak boleh sedih ataupun patah semangat, karena segala sesuatu yang terjadi didunia ini atas kehendak Allah SWT jadi kita sebagai hamba seharusnya dalam situasi dan kondisi apapun itu terus berusaha untuk lebih dekat lagi terhadap Allah SWT, karena segala sesuatu yang ditakdirkan Allah untuk kita itu sebuah rezeki, rezeki tidak semata-mata hanya segi bahagia saja, rezeki bisa juga berupa bencana, salah satunya covid-19 ini. Jadi kita sebagai makhluk Allah harus pandai mengambil hikmah di setiap kejadian yang terjadi didunia ini.

Justru ditengah pandemi seperti ini kita sebagai umat muslim harus lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT karena semua terjadi atas kehendak Allah SWT, seharusnya kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya, lebih bertaqwa kepada-Nya, lebih giat beribadah untuk mencari hidayah dan ridho-Nya, dll. Karena sesungguhnya Allah tidak akan memberi cobaan kepada umatnya hingga melampaui batasnya.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 286 :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Jika kita menghadapi sebuah wabah dan mengharuskan kita tetap ditempat yaitu kita harus mendengarkan arahan dari pemimpin, jika pemimpin menganjurkan agar kita tetap ditempat tinggal kita masing-masing, tidak boleh melakukan perpindahan antara 1 kota ke kota lain,mengharuskan untuk mencegah wabah yang sedang terjadi misal dengan berjaga jarak atau yang lainnya, jika peraturan sudah ditetapkan seperti itu kita sebagai rakyatharus dilakukan dandicamkan agar kita dapat membantu mencegah penyebaran wabah itu.

Peran yang dapat kita ambil sebagai pemuda muslim adalah :

  • Pertama, tetap menjalankan ibadah, walau di rumah masing-masing.
  • Mensosialisasikan bahwa ibadah di rumah dapat mengurangi/mencegah penularan covid-19.
  • Pemuda juga dapat membantu dengan mengumpulkan sedekah dan di bagikan bagi masyarakat yang kurang mampu dan yang lebih membutuhkan.

Sebagai pemuda generasi bangsa tentunya kita harus melakukan sesuatu hal positif walaupun sedang ditengah pandemi seperti ini, dengan bertepatan bulan ramadhan ini yang dapat dilakukan oleh kita adalah seperti halnya tadarus online, ikut sertaberamal online, belajar, quality time bersama keluarga, membantu orang tua, tadarus bersama keluarga, beribadah dirumah bersama keluarga, dan lain sebagainya.

Pendakwah Ustaz Abdul Somad menyatakan patuh terhadap fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait larangan beribadah secara berjamaah di masjid selama pandemi virus corona (Covid-19)berlangsung.

Somad mengutip Alquran Surat An-Nisa ayat 59 tentang kewajiban taat kepada Allah SWT, Rasul SAW, ulama, dan pemimpin. Menurutnya, MUI adalah pihak yang harus ditaati umat Islam Indonesia.

“Saya percaya kepada MUI dan khusus Mesir, karena saya alumni Al-Azhar, saya sebagai orang awam tidak berilmu ikut guru-guru kami di Azhar yang pada 15 Maret 2020 tentang gugurnya Salat Jumat dan Fardu,” kata Somad

Ditengah pandemi seperti ini kita sebagai umat muslim dilarang untuk berkegiatan didalam masjid karena virus ini bisa menular jika berkontak langsung dengan penderita, tidak bisa dipungkiri jika kita sebagai orang awam bisa mengetahui bahwa orang mana yang sedang terkena virus covid-19 ini, jadi maksud dari ditiadakan kegiatan dimasjid ini gunanya untuk memutus rantai penyebaran covid -19 ini.

Wabah penyakit sudah pernah terjadi di zaman Rasulullah yaitu penyakit kusta atau lepra yang dapat menular dengan cepat dan juga menyebabkan kematian. Dalam menghadapi wabah ini, Nabi mengajarkan kepada sahabat untuk tidak memasuki wilayah yang tengah terjangkit, dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya” (HR. Muslim)

Rasulullah juga memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Artinya: “Jangan kamu terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)

Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya).

Wabah lain juga pernah terjadi di zaman Rasulullah, yakni ketika Nabi melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Diceritakan saat itu di Madinah dalam keadaan buruk dengan air keruh dan penuh wabah penyakit. Nabi pun meminta para sahabat agar menghadapi wabah itu dengan sabar dengan tetap berharap pertolongan dari Allah SWT.

Seperti diceritakan Aisyah, mereka yang bersabar dijanjikan syahid. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”. (HR Bukhori)

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadis disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.

‏ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari)

Mengutip dari situs resmi www.kemenag.go.id Kementerian Agama telah menerbitkan tata cara umum mengurus jenazah pasien virus SARS COV-2, mulai dari cara memandikan hingga menguburkannya. Hal ini dilakukan demi mencegah penyebaran virus, terhadap siapapun yang nantinya mengurus, memandikan, hingga menguburkan jenazah pasien. Tata cara itu mengikuti aturan umum yang berlaku berdasarkan agama yang dianut dari jenazah pasien Covid-19.

Prosesi penguburan jenazah:

  • Jenazah harus dikubur dengan kedalaman 1,5 meter, lalu ditutup dengan tanah setinggi satu meter. Penguburan beberapa jenazah di dalam satu liang kubur dibolehkan karena kondisi darurat. Bagi jenazah beragama Islam penguburannya dilakukan bersama dengan petinya. Pemakaman jenazah dapat dilakukan di tempat pemakaman umum (TPU).
  • Tanah kuburan dari jenazah pasien virus corona harus diurus dengan hati-hati. Jika ada jenazah lain yang ingin dikuburkan, sebaiknya dimakamkan di area terpisah. Setelah semua prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah.

Jika jenazah beragama Islam, dilakukan prosesi salat jenazah dengan ketentuan berikut ini:

  • Untuk pelaksanaan salat jenazah, dilakukan di rumah sakit rujukan. Jika tidak, salat jenazah bisa dilakukan di masjid yang sudah dilakukan proses pemeriksaan sanitasi secara menyeluruh dan melakukan disinfektasi setelah salat jenazah.Salat jenazah dilakukan sesegera mungkin dengan mempertimbangkan waktu yang telah ditentukan yaitu tidak lebih dari empat jam.Salat jenazah dapat dilaksanakan sekalipun oleh satu orang.Selain itu, jika petugas terkena darah atau cairan tubuh jenazah, lakukanlah langkah-langkah berikut ini.Segera bersihkan luka dengan air mengalir yang bersih. Jika luka tusuk tergolong kecil, biarkanlah darah keluar dengan sendirinya. Semua insiden yang terjadi saat proses memandikan jenazah harus dilaporkan pada pengawas

Petugas kesehatan akan melakukan langkah-langkah di bawah ini:

  • Menggunakan pakaian pelindung, sarung tangan, hingga masker. Semua komponen pakaian pelindung harus disimpan terpisah dari pakaian biasa.
  • Tidak makan, minum, merokok, ataupun menyentuh wajah selama berada di ruang penyimpanan jenazah, autopsi, dan area untuk melihat jenazah.
  • Selama memandikan jenazah, tidak berkontak langsung dengan darah atau cairan tubuh jenazah.
  • Jenazah kemudian ditutup dengan kain kafan/bahan dari plastik (tidak dapat tembus air). Jenazah yang sudah dikafani dan dibungkus plastik kemudian disemprot cairan klorin sebagai disinfektan. Dapat juga jenazah ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar dan sebelumnya sudah disinfeksi. Jenazah beragama Islam posisinya di dalam peti dimiringkan ke kanan. Dengan demikian ketika dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.
  • Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi, kecuali dalam keadaan mendesak seperti untuk kepentingan autopsi dan hanya dapat dilakukan oleh petugas.
  • Jenazah disemayamkan tidak lebih dari empat jam.
  • Petugas selalu cuci tangan dengan sabun atau sanitizer berbahan alkohol. Luka di tubuh petugas (jika ada), harus ditutup dengan plester atau perban tahan air.Sebisa mungkin menghindari risiko terluka akibat benda tajam.
  • Semua petugas kesehatan yang telah mengurus proses pemulasaran hingga jenazah masuk peti dan pihak keluarga yang menyaksikan prosesi tersebut diwajibkan menjalani proses sterilisasi dengan disemprotkan cairan disinfektan ke bagian pakaian yang dikenakan serta selalu mencuci tangan.

Cara mencegah covid 19 ada banyak hal yang dapat di lakukan, yaitu :

  • Physical distancing dan sosial distancing

Phisical distancing adalah menjaga jarak fisik antar individu, menjauhi perkumpulan yang melibatkan banyak orang, dengan memanfaatkan teknologi yang terlah berkembang pesat. Hal ini bertujuan untuk menghambat, atau memperlambat penyebaran virus dengan mengurangi kontak langsung dengan orang yang terinfeksi dan tidak terinfeksi.

  • Berdiam diri di rumah

Melakukan segala aktivitas di rumah masing masing untuk mengurangi atau mencegah adanya penyebaran covid 19. Tidak bepergian ke wilayah di mana kasus tersebut di temukan, begitu juga dengan orang yang berada dalam wilayah di mana kasus itu di temukan. Karena penyebaran virus ini lebih rentan mengenai pada orang tua yang berusia lebih dari 30 tahun, dan anak-anak yang usianya yang kurang dari 10 tahun. Untuk para anak muda yang masih aktif dan produktif memang tidak mengalami gejala yang serius dalam hal ini namun tidak menutup kemungkinan mereka menulari pada orang tua dan anak anak. Oleh karena itu kita di anjurkan untuk berdiam diri dirumah atau karantina diri sendiri. Maka kita dapat melindungi diri kita sendiri maupun orang lain yang kita sayangi, orang terdekat kita, orang tua kita dan keluarga kita.

  • Isolasi diri sendiri di rumah

Berbeda dengan berdiam diri, namun ini isolasi diri sendiri, setelah bepergian pada wilayah ber-zona merah, mengunjungi orang yang terkena covid 19, atau datang dari wilayah ber-zona merah ke wilayah ber-zona hijau yang masih aman, atau belum terdapat kasus covid 19. Hal ini bertujuan untuk mengurangi di suatu wilayah tersebut terjadi penyebaran atau penularan di suatu daerah atau wilayah tersebut. Sedangkan biasanya orang yang setelah bepergian ke suatu wilayah ber-zona merah atau datang dari wilayah ber-zona merah datang ke wilayah zona hijau, maka akan di masukkan data pada ODP (orang dalam pemantauan) dan orang yang datang dari wilayah wilayah tertentu kemudian sakit (dalam gejala covid 19, seperti demam, sakit tenggorokan, dan sesak nafas) maka akan dimasukkan dalam data PDP (pasien dalam pemantauan).

  • Menjaga imun tubuh

Banyak cara dalam menjaga imun tubuh, tidak hanya berdiam diri namun juga di buuhkan peningkatan imun tubuh kita, supaya tetap terjaga,terhindarkan dari virus covid 19. Karena virus ini menyerang imunitas kita, jadi peningkatan imun tubuh sangat bermanfaat dalam menjaga tubuh kita sendiri dari seranganvirus tersebut. Banyak cara yang dapat di lakukan dalam meningkatkan imun, contohnya adalah dengan berjemur pada min 15 menit di pagi dan sore hari, menjaga kebersihan makanan, gizi makanan yang kita konsumsi setiap harinya, meminum vitamin untuk menambah kekebalan dan daya tubuh kita. Meminum ramuan atau jamu rebusan sendiri seperti jahe, sereh, temulawak, kunyit, dll.

  • Rajin mencuci tangan

Covid 19 akan mati dengan sabun atau detergent, maka sebelum kita makan, minum atau memegang segala seuatu kita harus cuci tangan terlebih dahulu. Karena dengan mencuci tangan dapat mengurangi penyebaran virus, hindari berjabat tangan untuk saat saat ini. Tidak memegang barang barang di tempat umum seperti pegangan eskalator, tombol lift, gagang pintu, dan segala barang yang sering di pegang oleh orang banyak. Jika tidak di temukan sabun dan air maka cukup menggunakan hand sanitizer, bisa juga menggunakan tisu basah dengan antiseptik, yang mengandung alkohol, membawa alat makan dan minuman sendiri, tidak berganti gantian alat makan di tempat umum.

  • Menggunakan masker

Menggunakan masker saat bepergian dapat mengurangi 72% penyebaran virus covid 19, karena kita tidak tau orang yang kita temui membawa virus tersebut atau tidak. Jadi kita perlu memakai masker. Bagi kita yang sehat hanya perlu menggunakan masker kain dan sedangkan yang sakit dan para medis harus menggunakan masker medis, selain dari pada masker medis saat ini sangat mahal dan langka maka kita hanya perlu menggunakan masker kain, yang di usahakan berlapis 2 sampai 3 lembar saja sudah cukup, karena secara tidak sadar atau secara tidak langsung saat kita batuk atau bersin maka cairan yang di keluarkan dari seseorang itu tidak menyebar ke udara, istilahnya adalah virus itu tidak melompat ke satu orang ke orang yang lain, dan sedangkan bagi orang yang sehat seperti kita tetap terjaga dari orang orang yang terpapar virus dan tidak menggunakan masker.

  • Tidak menerima tamu

Jika pemerintah tidak mengijinkan lockdown, maka dari diri kita pribadi lepas pribadi harus bisa mengontrol diri kita sendiri, salah satunya adalah tidak menerima tamu di rumah, untuk sementara waktu, karena kita tidak tau apa yang di bawa orang itu datang ke rumah kita. Tamu yang datang ke rumah pasti melewati perjalanan dan kita tau mereka bisa saja membawa virus itu waktu di perjalanan. Maka untuk sementara waktu jangan menerima tamu terlebih dahulu untuk melindungi diri sendiri. Jika ada saudara di luar kota yang merantau sebaiknya jangan pulang dahulu, karena dapat menyebabkan keluarga yang di datangi mengalami ODP meskipun belum ada gejala, namun tetap dalam pengwasan dinas kesehatan dan pihak yang berwajib.

  • Menganti pakaian setelah bepergian

Menganti pakaian setelah bepergian adalah salah satu ara dari berbagai cara mencegah adanya virus masuk ke dalam tubuh kita. Virus covid 19 adalah virus yang membutuhkan inang, yang hanya bisa hidup dengan inang, jika tidak ada inang virus tersebut akan langsung mati. Sedangkan virus jenis ini dapat penempel pada pakaian yang kita pakai,namun jangan panik, sebab virus ini dapat mati hanya dengan detergent atau sabun. Jadi pakaian di cuci dan di jemur di bawah sinar matahari saja sudah cukup. Untuk menjaga tubuh kita dan orang-orang di sekitar kita adalah, dengan cara itu, walau para peneliti belum dapat memastikan virus yang menempel pada pakaian itu dapat menularkan pada diri sendiri dan orang di sekitar kita maka lebih baik mengganti pakaian.

  • Perbanyak minum air putih hangat

Virus sebelum masuk dalam paru-paru akan bersarang pada tenggorokan yang dapat menyebabkan rasa seperti gatal di tenggorokan, batuk kering dan radang. Dan memperbanyak minum air putih dapat melarutkan virus yang bersarang pada tenggorokan, yang akan membawa virus tersebut ke dalam lambung, kemudian enzim pada lambunglah yang akan mematikan virus virus tersebut. Jika terkena radang atau gatal tenggorokan jangan panik, rajin rajinlah berkumur dengan air hangat dan garm, akan mempercepat penyembuhan. Fungsi garam di sini alah sebagai pelarut virus virus tersebut, sehingga jika sebenarnya ada virus yang bersarang, akan terlarutkan dengan adanya berkumur dengan air putih hangat dengan garam. Pada dasarnya virus ini tidak dapat menyebabkan dampak yang serius pada orang yang usianya masih belia, karena pada usia ini mereka sedang aktif aktifnya beraktivitas sehingga membunuh virus itu sendiri. Pada penderita virus ini yang usianya masih muda, akan sembuh dan pulih sendiri tanpa perawatan medis setelah 14 hari, dengan cara menjaga pola makan, melakukan isolasi diri sendiri, olahraga ringan, berjemur, dan mengonsumsi vitamin C.

  • Menjaga emosi

Di sini artinya adalah jangan panik, namun tetap berjaga dan berhati hati , untuk apa? Sudah di jelaskan di awal bahwa menjaga imun tubuh sangat penting. Di sini salah satunya adalah menjaga emosi, karena emosi dapat mempengaruhi imun yang ada di tubuh kita, baik itu sedih, kecewa, marah dan panik. Hindari emosi emosi tersebut, karena dapat memudahkan virus masuk dalam tubuh kita. Jika mengalami gejala yang menyerupai covid ini langsung lapor pada dinas kesehatan, jangan takut dan jangan tidak mau melapor karena ini berbahaya, selama dalam masa pengawasan juga di haruskan untuk tetap berada di rumah, mengisolasi diri bahkan dengan keluarganya, sampai benar benar sembuh dari gejala-gejala yang di alami tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

https://indonesia.go.id/layanan/kependudukan/ekonomi/tata-cara-pengurusan-dan-penguburan-jenazah-pasien-covid-19

https://www.google.com/amp/s/www.tagar.id/pandemi-corona-dan-kisah-wabah-penyakit-zaman-nabi/amp/

https://www.islamkafah.com/allah-tidak-akan-menguji-hambanya-kecuali-sesuai-dengan-kemampuannya/

https://tafsirweb.com/38487-ayat-tentang-bersyukur.html

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200328111553-20-487772/wabah-corona-pemuka-agama-minta-umat-ibadah-di-rumah

Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Bertafakur kepada Allah SWT melalui Covid-19 oleh Srimulyani

oleh Srimulyani (Nim. 19201241010) – Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Sejak Desember 2019 lalu, virus corona atau Covid-19 menjadi monster bagi kita semua. Tak hanya di satu negara, tetapi wabah ini menyerang masyarakat diseluruh dunia tanpa terkecuali. Sebegitu dahsyatnya virus ini sehingga sampai menggemparkan dunia. Ada yang berpendapat virus ini berasal dari hewan yang berada di pasar Wuhan, China. Ada juga yang berpendapat bahwa virus ini memang sengaja dibuat untuk mengurangi populasi manusia dibumi. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat mengenai virus Corona atau Covid-19 ini. Terlepas dari semua itu, sebagai orang yang beriman, kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa apa yang terjadi di bumi dan di langit merupakan kehendak Allah SWT. Jika dibayangkan adalah hal yang berada diluar nalar, bagaimana mungkin sesuatu yang tidak kelihatan (virus corona) bisa menggemparkan seluruh dunia kecuali karena kuasa Allah SWT. Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 107 yang berbunyi:ِِ

ضْرَْلْاَوِتاَواَمَّسلاُكْلُمُهَل

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi”.

Bahkan apa yang terjadi sekarang, termasuk wabah corona sudah ditulis dan ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya :

“Allah telah mentakdirkan seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi” [H.R Ahmad 2/169, dan lafadznya, dan Muslim 2653].

Sesungguhnya bala’ atau musibah itu menimpa semua orang, baik mukmin, ataupun tidak, baik kecil, besar, tua, dan muda dan semuanya ikut merasakan bala’ atau musibah tersebut. Meskipun terkadang kita tidak tau apa-apa namun musibah tersebut ikut menimpa kita. Yang harus kita yakini dan pahami adalah bala’ atau musibah tersebut datang dari Allah SWT dan menjadi azab bagi orang kafir namun menjadi rahmat bagi orang mukmin. Mengapa menjadi rahmat? Karena sebab bala’ atau musibah itulah kita memiliki kesempatan untuk menambahkan ketakwaan kita dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Maka dari itu, sudah semestinya virus Corona atau Covid-19 ini pun menjadi sarana untuk mendekatkan diri kita kembali kepada Allah SWT, karena kita tidak tau barangkali kita adalah salah satu penyebab diturunkannya wabah tersebut karena dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Jika kita kembali menilik sejarah, pada masa khalifah Umar Bin Khattab juga terjadi wabah yang hampir mirip dengan virus corona atau covid-19. Wabah tersebut bernama Tha’un. Terjadi sekitar akhir tahun 17 Hijriyah di Amawas dan menyebar cepat di Yordania. Wabah ini pun sangat ganas karena menyebabkan kematian. Bahkan ada beberapa sahabat yang mati syahid akibat wabah tersebut. Diantaranya adalah Ubaidah Bin Jaroh, Mu’adz Bin Jabal, Yazid Bin Abi Sufyan, Haris Bin Hisyam dan sahabat lainnya.

Dari Abdurrahman Bin Auf , Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit melanda suatu negeri sedang kalian didalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut” [H.R Bukhari dan Muslim].

Hadist inilah yang dijadikan pegangang Umar Bin Khattab, ketikamendengar wabah Tha’un tersebut sedang Umar akan melakukan perjalanan ke kota Syam. Akhirnya, Umar mengurungkan niatnya dan kembali ke Madinah. Pada saat Syam dipimpin oleh Amr Bin Ash, wabah penyakit Tha’un tersebut mereda. Metode yang digunakan oleh AmrBin Ash adalah memisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat sehingga tidak terjadi penularan. Wabah penyakit di Syam tersebut perlahan-lahan hilang. Jika kita belajar dari sejarah, maka metode lockdownatau karantina yang diterapkan di Indonesia sudah tepat. Kita berharap metode tersebut dapat menghambat penularan Covid-19, sehingga virus tersebut akan cepat hilang.

Program lockdown yang diterapkan pemerintah tentunya membawa konsekuensi bagi masyarakat dalam berbagai bidang. Tak terkecuali dalam halibadah, terlebih sekarang adalah bulan Ramadhan. Dimana ketika Ramadhan seharusnya kita memperbanyak melakukan aktivitas di masjid untuk beribadah. Tetapi ibadah sholat tarawih, buka bersama, i’tikaf dan sebagainya terpaksa harus kita lakukan di rumah masing-masing. Yang menjadi kebingungan adalah, bagaimana untuk sholat Id? Sebenarnya sholat Id adalah sholat sunnah. Namun, sangat rugi sekali jika tidak kita laksanakan. Lalu bagaimana melaksanakan sholat Id dengan kondisi seperti sekarang? Berdasarkan ceramah dari Ustadz Abdul Somad, Lc., MA. bahwa sholat idul fitri tetap bisa dilaksanakan dirumah. Bisa dilakukan sendiri. Apabila di keluarga tersebut ada beberapa anggota maka tetap sah jika dilakukan secara berjamaah. Yaitu minimal 4 orang dan satu sebagai imam. Dan tetap bisa melakukan khutbah, karena rukun khotbah hanya 5 yaitu berdiri, takbir, membaca hamdallah, membaca sholawat, membaca ayat Al-Qur’an, dan berwasiat takwa kemudian duduk sebentar lalu khotbah yang kedua yang dimulai dari hamdallah, membaca sholawat, wasiat takwa dan yang terakhir adalah berdo’a. Mengenai khutbah 2 kali ini, ada sebuah hadits yang menerangkan yaitu yang artinya:

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan berdiri, lalu duduk, kemudian bangun dan berkhotbah dengan berdiri lagi. Maka barangsiapa memberi tahu engkau bahwa beliau berkhutbah dengan duduk, maka ia telah bohong.(H.R Muslim)

Sehingga sholat idul fitri tetap bisa dilaksanakandan tidak ada alasan untuk tidakmelaksanakan sholat idul fitri.

Lalu bagaimana pengurusan jenazah yang terpapar Covid-19? Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa mengenai pengurusan jenazah muslim yang terpapar Covid-19. Tulis pengaturan jenazah terinfeksi Covid-19 dalam Fatwa MUI nomor 18 tahun 2020 yang dikirim oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr. HM. Asrorun Niam Sholeh, MA. menyatakan bahwa :

“ Umat Islam yang wafat karena wabah Covid-19 dalam pandangan syara’ termasuk kategori syahid akhirat, dan hak-hak jenazahnya wajib dipenuhi yaitu dimandikan, dikafani, di sholati, dan dikuburkan yang pelaksanaannya wajib menjaga keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan-ketentuan protocol medis”. (Jumat, 27/03/2020).

Dengan fatwa tersebut diharapkan pasien muslim yang wafat terkena Covid-19 tetap dipenuhi hak-haknya dan petugas pun tetap selamat dalam menjalankan tugasnya.

Menghadapi wabah tersebut, tentunya kaum muda pun memiliki peran yang sangat penting. Dimana kaum muda dapat memberikan kontribusi pencegahan penularan Covid-19 meskihanya dari rumah. Pemuda yang terkenal kreatif, tanggap dan gesit mampu memafaatkan media dan teknologi untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi Covid-19. Banyak saya temukan para pemuda melakukan galang dana melalui media sosial, membuatkonten-konten tentang pencegahan Covid-19 dan masih banyak lagi yang tentunya sangat bermanfaat bagi kita semua. Selain itu, banyak juga relawan-relawan muda yang siap turun ke lapangan untuk melakukan penyemprotan, menunggu posko penyemprotan, pembagian sembako dan lain sebagainya yang tanpa mengharap imbalan apapun. Dan mereka itulah adalah pemuda-pemuda dambaan umat seperti yang telah dijelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 13, yang berbunyi:ِِ

قـَحْلاِبْمُهَاَبَنَكْيَلَعُّصُقَنُنْحَنِِۗاٌةَيْتِفْمُهَّنِاىًدُهْمُهنْدِزَوْمِهِبَرِباْوُنَمِۗ

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka,”.

Banyak hal yang berubah semenjak ada Covid-19 ini. Ada banyak sekali pelajaran yang diberika oleh Covid-19 ini. Yang harus kita lakukan adalah selalu berprasangka baik kepada Allah SWT dan kita selalu berusaha untuk mengikuti arahan pemerintah agar Covis-19 ini dapat segera berakhir dan keadaan dapat berjalan normal seperti biasanya.

Sumber Referensi

Ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi

Indriya. 2020. Konsep Tafakur dalam Al-Qur’an dalam Menyikapi Coronavirus Covid-19. SALAM. 7 (3): 211-216.

https://m.detik.com/news/berita/d-4956009/saat-khalifah-umar-bin-khattab-berdebat-soal-wabah-penyakit-dan-takdir

https://m.detik.com/news/berita/d-4955989/fatwa-mui-wafat-karena-corona-syahid-akhirat-begini-cara-urus-jenazahny

Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Corona Virus (Covid-19) di Indonesia oleh Rida Rarasati

Oleh Rida Rarasati (NIM: 19405244028) Pendidikan Geografi – Fakultas Ilmu Sosial

Ramadhan 1441 H ini dijalani umat Islam di seluruh dunia dengan suasana berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara, tak terkecuali negara-negara Muslim membuat tatanan kehidupan baru yang harus dijalani seluruh manusia khususnya umat muslim. Bahkan masjid paling agung dan paling suci bagi umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pun sempat ditutup untuk umum guna mencegah persebaran Corona. Penutupan masjid juga dilakukan di berbagai masjid di Indonesia, sebagai contoh Masjid Istiqlal di Jakarta yang melakukan penutupan selama bulan ramadhan 1441 H.Virus corona adalah virus yang menyebabkan flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernapasan. WHO memberi nama virus tersebut sebagai Coronavirus disease 2019 (COVID-2019) (WHO, 2020).

Pada mulanya transmisi virus ini belum dapat ditentukan apakah dapat melalui antara manusia-manusia. Semakin lama jumlah kasus semakin bertambah. Virus ini bermula di Wuhan, China pada 31 desember 2019. Virus yang merupakan virus RNA strain tunggal positif ini menginfeksi saluran pernapasan. Penegakan diagnostik dimulai dari gejala umum berupa demam, batuk dan sulit bernapas hingga adanya kontak erat dengan negara yang sudah terinfeksi. Pengambilan swab tenggorokan dan saluran napas merupakan penegakan diagnosis coronavirus disease. Penatalaksaan berupa isolasi harus dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih masif (Yuliana, 2020).

Virus ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat yang membuat tatanah kehidupan masyarakat menjadi berubah total. Aturan work from home, physical distancing menjadi aturan yang gencar diserukan terhadap masyarakat demi mengurangi dan memutus penyebaran virus tersebut.Dalam mempercepat upaya pemutusan penyebaran virus, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) mengatur bahwa Menteri Kesehatan menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar berdasarkan usul gubernur/bupati/walikota atau Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dengan kriteria yang ditetapkan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut, Pembatasan Sosial Berskala Besar paling sedikit meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Dalam hal Pembatasan Sosial Berskala Besar telah ditetapkan oleh Menteri, Pemerintah Daerah wajib melaksanakan dan memperhatikan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Permenkes RI Nomor9 Tahun 2020).

MUI mengeluarkan fatwa Nomor14 tahun 2020 yang Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Salah satu isi fatwa adalah mengatur tentang ibadah shalat Jumat dan mengenai ketentuan yang harus dilakukan terhadap jenazah pasien pengidap virus corona atau Covid-19. Selain itu, MUI juga menegaskan fatwa haram atas tindakan yang menimbulkan kepanikan, memborong, dan menimbun kebutuhan pokok berserta masker(Mashabi,2020).

Setiap permasalahan pastilah menimbulkan dua golongan yang ekstrem dalam bersikap, tak terkecuali saat merebaknya virius corona saat ini. Ada pihak yang berlebihan dalam mengantisipasi sehingga menyebakan kepanikan terhadap pihak lain. Namun ada juga yang bersikap meremehkan hinggan berpeluang menimbulkan bahaya bagi yang lain. Kepanikan hanya akan menimbulkan kerugian besar sehingga layaknya harus dihindari. Tetapi tindakan meremehkan pun tidak hanya mendatangkan kerugian namun juga potensi kematian bagi diri sendiri maupun orang lain. Beberapa orang bahkan menunjukkan keberanian di muka publik bahwa merekatak takut virus corona sebab yang ditakuti hanyalah Allah. Dari sudut pandang akidah hal tersebut benar sebab tak ada yang dapat meyebabkan orang menjadi dakit kecuali Allah. Secara akidah hal tersebut harus diyakini bahwa Allah yang menentukan sakit tidaknya seseorang, Namun bukan berarti akidah sebagai satu-satunya persoalan. Masih ada urusan fiqih yang perlu diperhatikan, sebagai contoh usaha apa saja yang dapat berdampak positif dan negatif. Usaha positif inilah yang harus dilakukan dan sebaliknya usaha negatif yang harus dihindari.

Usaha positif yang telah diajarkan oleh Rasulullah dalam menangkal suatu penyebaran wabah antara lain:

1.Menjaga higienitas makanan

Memastikan makanan dan minuman selalu dalam kondisi higienis adalah langkah antisipasi yang penting untuk menangkal penyakit atau wabah dan merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim. Makanan hendaknya halal dan thayib. Inilah suatu langkah yang harus dilakukan muslim setiap hari Rasulullah menginstruksikan dalam sabdanya:

عَنْعَاَِرِعَنَِعَبَدْعَهِعارَعَمَعَتُعاََُُعَهِصهلىعَهِعَلَيلْعسهلَُعَاَُلُغُطُّاعإرَََغغَََََُُعإرلاءغعهإَنَّفََّعَسنهءغعَسلَيعَاَزَنُرييََّعَإرَِعاعطاَتُرََنَِعإعيَيعَلَيلْعَإرَُّاعََُعإرلَُعيَيعَلَيلْعَإرَََعهاَاعازَعَليََّعَنَْعلََعَإرَُِغ

“Dari Jabir bin ‘Abdullah ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ke tempat-tempat air yang tidak tertutup”(HR.Muslim).

2.Mengisolasi area wabah

غََاعَسَعَعَتُعَإَُْرهُّرَِعأََضَِعلَّردَُلََُباغََاَعقََعأََضَِعَسَعَََُريَِعلَّغََُِاَُاعلَنَْغ

“Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut” (HR. al-Bukhari).

Hukum isolasiberlaku bagi semua wabah, termasuk Corona. Isolasi ini dapat mencegah penyebaran wabah ke daerah lebih luas, namun di satu sisi akan menyebabkan orang yang berada di daerah wabah akan ikut terdampak wabah juga.Dampak dari isolasi yaitu kegiatan ekonomi akan terganggu namun demikian hal tersebut sebagai salah satu ikhtiar untuk mengurangi dan memutus rantai virus corona.Dalam hal ini kemudian Rasulullah bersabda bahwa wabah tersebut akan menjadi siksaan bagi orang yang tidak beriman tetapi akan menjadi rahmat Allah bagi mereka yang beriman, bahkan Muslim yang terkena wabah dan bersabar akan mendapatkan pahala mati syahid.

Dalam (Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020) Allah telah berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 195 yang artinya “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah:195)

Dengan demikian, sangat tidak tepat apabila ada seorang Muslim yang meremehkan peredaran wabah atau justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan instruksi Rasulullah di atas, misalnya dengan menampakkan keberanianmenolak tindakan isolasi wabah, tidak menaati aturan pemerintah, melakukan perjalanan mudik yang berpotensi memperluar penyebaran wabah, dan lain-lain. Tindakan ini bukanlah sebuah keberanian namun justru sebuah kecerobohan dan keteledoran yang dapat memperparah situasi dan kondisi yang ada. Hal tersebut dikarenakan segala tindakan yang mandatangkan potensi bahaya, secara fiqih tergolong sebagai tindakan yang haram, meskipun berdasarkan pada aqidah yang benar.

Meskipun tak ada penyakit yang dapat menular dengan sendirinya tanpa kontrol dari Allah, namun di waktu yang sama Rasulullah juga menginstruksikan agaryang sakit tidak berbaur dengan yang sehat supaya tak terjadi penularan. Beliau bersabda:

عارََُُِعستلُعَنَِعَبَدْعَنتَمهاغعَمَعَتُرُِعراَُاَدعَنْعافَدهنغصهلىعَهِعَلَيلْعسهلَُعارَعاعَاغََدََُعأَاَتَتَغصلْعاََُْتَغ

“Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat”(HR. al-Bukhari).

Banyak anjuran dalam pencegahan Covid-19 tercermin dalam ibadah puasapada tahun ini. Kita diminta untuk menahan diri untuk keluar rumah kecuali untuk urusan yang sangat mendesak. Selain itu, juga perlu menahan diri untukmengurangi konsumsi di luar hal-hal yang diperlukan karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi akan berakhir. Bersikap hidup bersih dan sehat karena puasa juga mengajarkan pola hidup sehat.

Adanya Covid-19 juga telah mengingatkan kembali pentingnya kerja sama. Sesungguhnya manusia adalah makhluk sosialyang tidak dapat hidiup sendiri tanpa adanya atau bantuan dari orang lain. Individualisme sebagai salah satu tindakan manusiayangbelakangan ini menjadi budaya masyarakat modernsehingga manusia bertindak semau sendiri demi kepentingan dirinya sendiritanpa memperdulikan orang lain. Oleh karena itu, dalammomen ramadhan tahun ini dan dalam situasi seperti ini, para muzakkiberkewajiban segera membayarkan zakat, dan menambahkannya dengan infak serta sedekah. Saat ini banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Bekerja sama akan menjadikan beban yang ditanggung mereka yang merasakan dampak secara langsung akibat corona menjasi lebih ringanRamadhan ini, saatnya kita melakukan introspeksi dirisecara lebih mendalam, lebih komprehensif, dan lebih substantif terhadap perjalanan kita sebagai pribadi atau terhadap perkembangan peradaban manusia yang selama ini dimotivasi oleh hedonisme dan konsumerisme.

Saatnya kita kembali mencari jati diri kemanusiaan kita yang mungkin telah terlupakan karena kesibukan pekerjaan yang sedemikian menuntut atau karena hal-hal yang sesungguhnya tak penting seperti gim dan media sosial yang kini menjadi keseharian kita. Tinggal di rumah sebenarnya merupakan kesempatan langka yang sebelumnya selalu kita dambakandan dapat berkumpul dengan orang terkasih dalam menjalani ibadah di bulan suci. Inilah saat untuk merefleksikan hubungan kita dengan Allahdengan sesama manusia dan tentunya dengan alam.

DAFTAR PUSTAKA

WHO. (2020). WHO Director-General’sعremarksعatعtheعmediabriefing on 2019-nCov.WHO, 11 Februari2020.

Mashabi, S. 2020.MuI Rilis Fatwa Terkait Ibadah Saat Wabah Corona, Ini Isi Lengkapnya. Kompas, 17 Maret 2020.

MUI. (2020). Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid.

Permenkes RI. (2020).Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Yuliana. (2020). Corona Virus Disease (Covid-19): Tinjauan Literatur. Bandar Lampung: Wellness and Healthy Magazine. Vol.2, No. 1:187-192

Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Memaknai Wabah Virus Corona dalam Islam oleh Olga Salsabila Nurfatma Nugraha

Oleh Olga Salsabila Nurfatma Nugraha (Nim. 19811334024) Jurusan Pendidikan Administrasi

Memaknai Wabah Virus Corona Dalam Islam

Pada pertengahan bulan Maret kemaren Indonesia digegerkan dengan wabah virus corona. Virus corona ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada bulan Desember 2019. Karena penyebarannya sangatlah cepat sehingga sekarang sudah menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia, salah satunya Indonesia. Awal mula virus ini masuk ke Indonesia yaitu pada akhir Februari 2020 ada WNA yang awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya terjangkit virus corona. WNA tersebut melakukan kontak langsung dengan WNI dan pada saat WNA tersebut kembali ke asalnya, disanalah WNA tersebut terindikasi Virus corona karena menunjukkan gejala dari infeksi virus corona. Mendengar berita tersebut, WNI yang telah melakukan kontak langsung dengan WNA tersebut langsung memeriksakan dirinya dan menjalani isolasi di rumah sakit rujukan. Sebelumnya Indonesia sendiri sudah bersiap mengenai penyebaran virus corona ini dan telah menunjuk beberapa rumah sakit sebagai rujukan pasien Covid-19.

Sampai sekarang, pasien yang terjangkit virus corona di Indonesia sudah lebih dari 16.000 orang itupun bisa bertambah sewaktu-waktu. Diluar sana banyak cerita simpang-siur mengenai asal mula dari virus corona sendiri, ada yang menyebutkan bahwa virus corona ini adalah senjata biologis China yang bocor, dan ada juga yang mengaitkan virus ini dengan konspirasi wabah virus sebelumnya. Tapi ingat, kita sebagai umat Islam harus bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Ingat juga bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kesanggupan hambanya. Dalam Q.S Al Baqarah ayat 286 Allah berfirman

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seorang melaikan sesuai dengan kesanggupannya”

Dengan  diberi cobaan ini, bisa jadi Allah ingin memberi peringatan kepada hamba-Nya. Mungkin kita sebagai hamba-Nya kurang menyadari keberadaaan Allah SWT. Oleh karena itu kita harus percaya bahwa wabah virus corona ini terjadi atas kehendak Allah tanpa menyalahkan pihak-pihak lain. Dengan adanya wabah virus corona ini, kita yang dianjurkan untuk dirumah saja bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk bisa lebih dekat dengan Allah SWT. Yang dulu saat kerja sering telat sholat 5 waktunya, saat dirumah kita bisa memaksimalkan sholat 5 waktu dengan berjamaah bersama keluarga. Yang dulu sering tidak sempat membaca Alqur’an, sekarang jadi punya waktu lebih untuk mengkhatamkan Alqur’an, dan masih banyak lagi amalan dan ibadah yang bisa kita lakukan saat dirumah saja.

Selain wabah virus corona saat ini, wabah penyakit juga perrnah terjadi pada zaman Rasullah. Wabah penyakit tersebut yaitu penyakit kusta atau lepra yang dapat menular dengan cepat dan juga dapat mnyebabkan kematian. Dalam menghadapi wabah ini, Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat untuk tidak memasuki wilayah yang tengah terjangkit, dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk meninggalkan tempat tersebut. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَاا “Apabila kamu mendengar wabah menyakit disuatu negara, maka janganlah kamu datangi negara itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negara tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negara itu larena hendak melarikan diri darinya” (HR. Muslim).

Rasulullah juga memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra tersebut. Seperti dalam hadis

اَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

“Jangan kamu terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta” (HR. Bukhari).

Dari cerita di zaman Rasulullah, kita dapat mengambil banyak hikmah yang bisa kita terapkan di kondisi saat ini, seperti kita harus tetap dirumah saja tidak usah pergi-pergi jika tidak mendesak dan apabila kita keluar rumah harus melakukan Social Distancing atau jaga jarak. Pemerintah juga sudah menerapkan kebijakan Stay at Home dan Work from Home.

Kita sebagai pemuda muslim harus tenang dan tidak boleh sembarangan dalam menghadapi wabah virus corona ini. Kita tidak boleh menyepelekan karena itu akan berdampak bukan hanyak kepada kita sendiri, tapi akan berdampak kepada banyak orang. Dalam mengahadapi virus corona, yang bisa kita lakukan seperti, menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan, menjaga adab Islam (adab makan, minum, bersin, batuk, hingga wudhu sesuai dengan ketentuan tata cara yang benar dan sempurna, tidak panik dan menghindari berita palsu (Hoaks), mematuhi imbauan beribadah, menyisihkan sebagian uangnya untuk bersedekah dan yang terakhir yaitu mendekatkan diri kepada Allah serta berdoa agar segera dihindarkah dari wabah virus corona. Dalam melakukan hal tersebut kita harus bersunggu-sungguh dalam melakukan agar nantinya diberi kemudahan sama Allah, sesuai dengan QS Al Ankabut ayat 69

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Untuk menghadapi wabah virus corona, pemerinah sudah banyak mengeluarkan kebijakan, salah satunya yaitu meniadakan kegiatan di tempat ibadah. Maksudnya yaitu kegiatan ibadah yang biasanya dilakukan berjamaah dianjurkan untuk dilakukan dirumah masing-masing. Banyak masjid yang meniadakan sholat berjamaah dan menganjurkan jamaahnya untuk sholat di rumah masing-masing. Hal ini bertujuan untuk memutus tali penyebaran dari virus corona. Namun dengan begitu, kita harus lebih giat lagi beribadah walaupun itu hanya dirumah saja. Selain kebijakan tentang beribadah, pemerintah juga sudah mengeluarkan kebijakan tentang perawatan jenazah yang terpapar virus corona. Dalam merawat jenazah yang terpapar virus corona harus sesuai dengan SOP yang berlaku, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Proses perawatan jenazah dilakukan oleh petugas khusus. Jika jenazahnya seorang muslim maka dimandikan sesuai dengan protokol yang berlaku, setelah dimandikan lalu dikafani, kain kafannya pun juga harus sesuai syariat. Namun untuk jenazah yang terpapar corona ini setelah dikafani maka akan dibungkus dengan plastik terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam peti. Hal ini bertujuan untuk menghindari dari penyebaran virus. Proses pemakamannya pun juga sesuai syariat namun dilakukan oleh petugas khusus dan tidak boleh dihadiri oleh keluar. Kebijakan tentang beribadah dan perawatan jenezah tersebut berdasarkan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 yang dirilis pada Senin 16 Maret 2020.

REFERENSI

https://www.tagar.id/pandemi-corona-dan-kisah-wabah-penyakit-zaman-nabi

https://republika.co.id/berita/q7gafw384/5-peran-aktif-ummat-islam-batasi-penyebaran-covid19

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51867023

https://tafsirweb.com/7295-quran-surat-al-ankabut-ayat-69.html

Hasil UAS Tutorial PAI 2020 Semester Genap : Peningkatan Kesadaran Diri dalam Menghadapi Virus Corona Melalui Perspektif Islam oleh Aufar Lazawardi

Oleh Aufar Lazawardi (NIM 19808144014) Jurusan S1 Manajemen E19

Peningkatan Kesadaran diri Dalam Menghadapi Virus Corona Melalui Prespektif Islam

Kesehatan merupakan kondisi terbebas dari penyakit dan salah satu kenikmatan mahal dibandingkan dengan lainnya. Raga dan jiwa manusia bagaikan dua sisi yang berbeda ibarat dalam satu keping mata uang. Keduanya ada bersamaan dan saling berinteraksi serta saling mempengaruhi. Badan yang sehat memiliki kontribusi untuk memperoleh jiwa yang sehat. Begitu juga sebaliknya jiwa yang sehat juga memiliki kontribusi yang signifikan untuk menjadikan tubuh sehat.

Dewasa ini, dunia sedang dihebohkan dengan pandemi Covid-19 yang merupakan salah satu virus mematikan. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virul lain pada umumnya seperti percikan air liur dari batuk dan bersin, menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi, menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona serta melalui tinja atau feses (halodoc,2020). Tak ada perawatan khusus untuk mengatasi infeksi virus corona. Namun, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala infeksi virus corona seperti cuci tangan menggunaka sabun, minum obat sesuai resep dokter, perbanyak istirahat, perbanyak asupan cairan tubuh, dan olahraga teratur (halodoc, 2020).

Penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 dan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2020 dalam menangani penularan virus corona memberikan kebijakan untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (Kompas, 2020). Melalui sudut pandang islam atas adanya kebijakan tersebut memberikan hikmah terhadap umat manusia untuk menjaga kebersihan seperti halnya dalam hadits dari Abu Hurairah disenutkan bahwa:

تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

“Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah ta’ala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.”

Selain hikmah yang dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari ada hal lain yang perlu kita laksanakan yaitu hikmah untuk melakukan kegiatan olahraga dalam agar tetap segar. Dalam Al-Qur’an surat An-Naba’ ayat 9 diperintahkan untuk istirahat yang cukup dalam menjaga kesehatan.

Pada zaman nabi, terdapat penyakit seperti halnya virus corona dan terjadi selama bertahun-tahun sehingga menyebabkan kekacauan dalam beraktivitas. Masa khalifah ke dua, Umar bin Khatabb terhadi serangan wabah yang paling berat dalam sejarah umat islam. Saat itu, Umar bin Khattab membatalkan niatnya masuk ke daerah Syam yang terserang wabah. Keputusan itu diambil setelah mengadakan dialog dan musyawarah bersama panglima pasukannya, Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Pusat wabah itu ada di kampung kecil bernama Amawas. Dalam sejarah Islam, nama tempat wabah penyakit era Umar bin Khattab dikenal dengan Thaun Amawas atau wabah Amawas. Kampung itu terletak antara daerah Ramallah dengan Baitul Maqdis. Wabah itu menewaskan puluhan ribu orang, termasuk para sahabat Rasulullah SAW. Gusrizal mengatakan banyak sahabat Rasulullah SAW yang turut meninggal dalam wabah itu. Di antaranya, Muaz bin Jabal, Suhail bin Amr, Syurahbil bin Hasanah, Abu Jandal bin Suhail dan puluhan (Pola Hidup Sehat dalam Perspektif Al Qur’an, 2015) (Majelis Ulama Indonesia, 2020) sahabat lainnya. Termasuk dua Gubernur Syam juga meninggal berturut-turut. Pertama Abu Ubaidah bin Jarrah yang diminta keluar dari Syam oleh Umar, namun dia tidak mau pergi menyelamatkan diri, lalu meninggal. Kemudian digantikan oleh Muaz bin Jabal sebagai gubernur dan ia juga meninggal terkena wabah. Saat menjadi gubernur Syam, Amr bin Ash mencoba melakukan diagnosa terhadap penyebab dan penyebaran wabah. Amr mengatakan bahwa wabah seperti api yang berkobar dan selama masih ada kayu bakar, dia akan terus menyala. Selama masih ada orang yang sehat, ia akan terus menyebar. Dia melihat solusi menghentikan wabah adalah dengan menyuruh penduduk sehat pergi menyingkir ke bukit-bukit. Kebijakan itu dinamakan isolasi atau lockdown saat ini (Langgam, 2020).

Dari permasalahan di atas, kita bisa mempelajari bahwa pada saat khalifah Umar bin Khattab melawan wabah penyakit menular melakukan ikhtiar dengan cara isolasi tempat agar tidak menyebar ke daerah lain. Bukan hanya tawakal kepada Allah, tetapi kita juga perlu ikhtiar untuk mengatasi penularan penyakit. Peran pemuda muslim dalam menghadapi virus corona ini dapat digalakkan melalui menjaga kebersihan jasmani dan tempat ibadah yang merupakan syarat mutlak pertama jika melakukan ibadah shalat (Nur Wahyudi, 2015). Melakukan cuci tangan menggunakan sabun sehingga terhindar dari adanya bakteri, hal ini juga terdapat dalam perintah bersuci pada Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222 yaitu:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (Al-Baqarah ayat 222).

Kita sebagai pemuda yang sudah menggalakan budaya hidup bersih dan sehat tentunya akan meminimalisir penyebaran virus corona pada suatu lingkungan sehingga akan segera usai wabah yang dialami. Dengan demikian kita akan selalu diberikan kemudahan dalam melakukan ibadah dan akan segera melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Adapun dalam beribadah ketika wabah melanda mengenai sholat maka kita dianjurkan untuk beribadah di rumah sesuai dengan fatwa MUI berdasarkan HR Al Bukhari bahwa:

عن عائشة أنَّهَا سَأَلَتْ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فأخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنَّه كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ علَى مَن يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فليسَ مِن عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أنَّه لَنْ يُصِيبَهُ إلَّا ما كَتَبَ اللَّهُ له، إلَّا كانَ له مِثْلُ أجْرِ الشَّهِيدِ التخريج : أخرجه البخاري (3474)، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (7527)، وأحمد (26139)

Dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari).

Dengan demikian, kita sebagai umat muslim tentunya bisa melakukan ibadah di rumah tanpa mendekati bahaya pada diri sendiri. Selain itu adanya wabah virus corona kita tentunya sadar akan menjaga kesehatan dan pola makan sesuai dengan aturan Islam sehingga dapat terhindar dari paparan virus.

DAFTAR PUSTAKA

Halodoc. (2020, April 30). Retrieved from http://halodoc.com/kesehatan/coronavirus

Kompas.com. (2020, April 26). Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2020/04/26/19130971/kebijakan-presiden-terkait-penanganan-covid-19-disebut-bisa-berubah

langgam.id. (2020, March 23). Retrieved from https://langgam.id/mengenang-cara-umar-bin-khattab-melawan-wabah-penyakit-menular/

Majelis Ulama Indonesia. (2020, Maret 16). Retrieved from file:///C:/Users/HP/Downloads/Documents/Fatwa-tentang-Penyelanggaran-Ibadah-Dalam-siatuasi-Wabah-COVID-19.pdf

Pola Hidup Sehat dalam Perspektif Al Qur’an. (2015). UIN Walisongo, 61-65.